SKI Asy-Syifa

Islamic Study

Tujuan Hidup dan kenapa Manusia diciptakan

Tujuan Hidup dan kenapa Manusia diciptakan

Bila kita pernah membaca tentang ritual seppuku atau harakiri (bunuh diri karena kalah atau malu dengan cara menusuk & membelah perut dengan katana pendek) di jepang, mungkin kita bertanya ‘Apa sih masalah mereka dalam hidup, sampai harus bunuh diri?’

Ternyata indonesia juga punya angka lumayan dalam masalah bunuh diri, khususnya di kota seperti jakarta & bali, padahal tingkat bahagia orang indonesia relatif tinggi dengan permasalahan hidup yang banyak.

Pertanyaannya, Apa sih tujuan kita hidup? Apakah setelah kematian, tiada lagi kehidupan setelahnya?

Sungguh bila kita Memahami agama kita (islam), keyakinan kita akan semakin bertambah kuat ‘bahwa manusia diciptakan oleh Allah dengan sebuah tujuan Mulia.

Manusia adalah Hamba Allah yang mendapat tugas memakmurkan bumi dengan ketaatan kepada-Nya, sehingga Allah utus para Nabi, khususnya Nabi Muhammad guna menjelaskan dan mempraktekkan kepada manusia dan jin aturan hidup yang benar di muka bumi.

Bukankah Allah telah menjelaskan,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ

Ingatlah ketika Rabb mu berfirman kepada para Malaikat :

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ

Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi“.

Khalifah bermakna Pemimpin / Pengatur / Penguasa di muka bumi, Allah jadikan mereka sebagai Pengganti para Malaikat yang menjaga keseimbangan di bumi dan Jin yang telah melakukan kerusakan & menumpahkan darah sesama mereka (pembunuhan & peperangan).

قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ

Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah*,

*pernyataan ini muncul dari para Malaikat, karena sebelumnya Allah telah Menciptakan jin lalu Memerintahkan kepada mereka untuk menjadi Khalifah di muka bumi, akan tetapi mereka melakukan kerusakan dan pertumpahan darah diantara mereka, oleh karenanya Allah turunkan Malaikat lagi untuk Mengusir jin dan Melakukan Perbaikan di muka bumi, sehingga mereka berkata,

وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ

padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”

قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Allah berfirman : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui“.

Pernyataan ini dari Allah, karena Allah telah Menciptakan Manusia dan Menulis Amal Perbuatan mereka, sehingga Allah Maha Mengetahui ‘bahwa nanti terdapat Hamba² yang Taat lagi Shaleh yang Menegakkan Aturan Allah di muka bumi, Melaksanakan perintah-Nya, Mengajak manusia pada Kebaikan dan Mencegah mereka dari Keburukan.

Allah berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (menyembah) kepada-Ku.

*inilah Ayat pendek yang menjelaskan bahwa ‘kehidupan ini hakikatnya untuk beribadah kepada Allah’, lantas Allah mengingatkan…

مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ

Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka

وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ

dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.

Ayat ini sindiran dari Allah ‘bahwa Allah tidak butuh apapun dari manusia, bahkan ibadah itu sejatinya menjadi kebutuhan manusia itu sendiri’, bukankah ayat ini gambaran bahwa bekerja untuk mendapat banyak rezeki namun melalaikan ibadah bukan tujuan manusia diciptakan?

Penciptaan manusia

وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ

dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa (Ruh) mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhan-mu?”

قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ

Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi“.

أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu Tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (anak cucu Adam) adalah orang-orang yang lalai terhadap ini (Keesaan Allah).” (Al A’raf :172)

Kemudian ruh itu ditiupkan ke dalam jasad dan disempurnakan.

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍوَ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk,” (QS Al Hijr ayat 28)

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS Al Hijr ayat 29)

تَشْكُرُونَ ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (QS. As Sajdah ayat 9)

Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya dalam waktu 40 (empat puluh) hari, kemudian menjadi segumpal darah selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal daging selama itu juga (40 hari), kemudian diutuslah Malaikat kepadanya dan ditiupkan ruhnya, kemudian diperintahkan untuk menuliskan 4 perkara; rejeki, ajal, amal perbuatan dan nasibnya celaka atau bahagia” (Perawi : Abdullah bin Mas’ud, kitab : Mu’jam Asy-Syuyukh, jilid 2, hal 764, derajat hadits : Shahih)

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (QS. Asy-Syams ayat 7-8)

يزُ الْغَفُورُالَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِ

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang paling baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al-Mulk ayat 2).

Kehidupan di dunia intinya adalah ujian. Setelah kita meninggal, kita akan dibangkitkan seperti diri kita seutuhnya atau nafs (bukan hanya ruh).

وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ وَأَنَّىٰ لَهُ الذِّكْرَىٰ

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

فَيَوْمَئِذٍ لَا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ

وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

فَادْخُلِي فِي عِبَادِي

وَادْخُلِي جَنَّتِي

Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini”. Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksa-Nya. dan tiada seorangpun yang mengikat seperti ikatan-Nya. Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr ayat 23-30)

Sebagai makhluk ciptaan Allah yang diberikan kesempatan menempuh ujian ini (dunia), marilah kita hidup semata-mata mencari ridho Allah agar nantinya kita tidak menyesal saat hari kebangkitan.

نْتُ تُرَابًاإِنَّا أَنْذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُ

Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah” (QS. An-Naba’ ayat 40)

Oleh:

Ustadz Jundi Al Maahy

Tim Redaksi

 

Tinggalkan Balasan

Recent Posts

Kegiatan Kesmas Al-Wafi 2018

Transfusi darah adalah kegiatan dalam membantu penyembuhan manusia ketika kadar darah dalam tubuh dibawah yang seharusnya. Menyumbangkan darah kepada orang lain yang amat membutuhkannya menurut kesepakatan para ahli fikih termasuk dalam kerangka tujuan syariat Islam, yaitu menghindarkan salah satu bentuk kemudaratan yang akan menimpa diri seseorang. Meskipun pada hakikatnya darah yang dikeluarkan dari tubuh manusia […]

7 Cara Menenangkan Hati

Selama manusia hidup, kesenangan dan kesedihan selalu bergantian mengisi hari-hari. Permasalahan yang terus-menerus datang, baik itu ringan maupun berat, akan memberikan dampak pada hati seseorang. Ketika dihadapkan dengan masalah, manusia sering menghindarinya. Namun, dengan menghindari masalah yang dimiliki, hati akan merasa tidak tenang. Dalam Islam, kita diajarkan cara untuk membuat hati menjadi tenang dan selalu […]

Tutur Kata yang Baik

Saudaraku.. Mungkin dari kita sering atau suka menggunakan kata-kata yang tidak baik. Kata dusta. Kata hinaan. Serta ujaran kebencian. Kata-kata tersebut diucapkan baik saat bercanda, atau sedang serius, marah, dan sebagainya. Ada pula yang mengatakannya demi memuaskan diri saja. Atau ingin menjatuhkan suatu tokoh yang terkenal. Wahai saudaraku, apakah baik sikap muslim seperti itu ? […]

Event SKI Asy-Syifa

no event