SKI Asy-Syifa

Islamic History

Perjanjian Hudaibiyah dan Turunnya Surah Al-Fath

Perjanjian Hudaibiyah dan Turunnya Surah Al-Fath

Peristiwa ini terjadi pada bulan Dzulqoidah pada akhir tahun ke-6 Hijriyah. Peristiwa bermula ketika Rasulullah SAW mengumumkan kepada kaum muslimin untuk pergi ke Mekkah guna melaksanakan ibadah umrah. Pengumuman ini disambut oleh sekitar 1400 orang sahabat muslim dari kaum Muhajirin dan Anshar. Rasulullah berihram di tengah perjalanan dan membawa binatang-binatang kurban (al-Hadyu) agar diketahui oleh banyak orang bahwa Rasulullah keluar bukan bertujuan untuk berperang melainkan semata-mata menunaikan ibadah umrah.

Ketika sampai di Dzul Hulaifah, Rasulullah mengutus Basyar bin Sofyan dari suku Khuza’ah untuk memata-matai guna mencari berita mengenai penduduk Mekkah. Sementara itu, Rasulullah melanjutkan perjalanan hingga sampai di Ghadir al-Asyathah. Di tempat itu Basyar bin Sofyan memberitahu Rasulullah bahwa suku Quraisy telah menyiapkan bala tentara untuk memerangi dan menghalangi Rasulullah untuk memasuki kota Mekkah. Namun, Rasulullah tetap melanjutkan perjalanannya menuju Baitullah.

Rasulullah bertanya kepada para sahabatnya siapa diantara mereka yang sanggup menemukan jalan lain menuju Mekkah selain jalan yang biasa mereka lewati. Kemudian salah seorang dari Bani Aslam menyanggupinya dan akhirnya bertindak sebagai perintis jalan. Jalan yang mereka lewati tidaklah mulus. Naik turun lereng-lereng yang terjal dan terdapat batu-batu tajam hingga unta Rasulullah berhenti di Tsaniyatil Mirar, sebuah jalan menuju ke Hudaibiyah. Rasulullah menghardik untanya agar bangun dan berjalan kembali turun ke ujung Hudaibiyah di dekat parit yang berisi sedikit air. Para sahabat lalu turun dan minum di parit itu hingga parit mengering. Setelah mendengar aduan dari para sahabatnya bahwa parit telah mengering, Rasulullah langsung mencabut anak panahnya lalu memerintahkan mereka meletakkan panah itu di parit. Atas izin Allah tiba-tiba air memancar dan memenuhi parit.

Ketika para sahabat sedang minum, datanglah Badil bin Warqa’ al-Khuza’i bersama beberapa orang membawa kabar bahwa orang-orang Quraisy beserta unta-unta mereka menuju ke lembah Hudaibiyah untuk memerangi dan menghalangi rombongan mereka menuju Mekkah. Rasulullah dengan tegas menyatakan bahwa mereka datang ke Mekkah hanya untuk melaksanakan ibadah umrah dan meminta mereka untuk menangguhkannya. Jika mereka tetap melawan maka Rasulullah siap untuk berperang. Kemudian Badil bin Warqa al-Khuza’i pergi untuk menyampaikan perkataan Rasulullah kepada kaum Quraisy. Akan tetapi mereka tetap bersikukuh untuk memerangi Rasulullah.

Urwah bin Mas’ud, utusan dari kaum Quraisy, datang untuk mengadakan pertemuan dengan Rasulullah. Rasulullah menegaskan kembali perkataan yang telah disampaikannya kepada Badil. Kemudian Urwah kembali ke Mekkah untuk melaporkan hasil pertemuannya dengan Rasulullah. Dari hasil pertemuan tersebut Rasulullah menawarkan langkah baik yang tidak merugikan kedua belah pihak. Akhirnya mereka mengutus Suhain bin Amir sebagai wakil mereka untuk membuat sebuah perjanjian perdamaian antara kaum Quraisy dengan kaum muslimin.

Setelah dudukdi hadapan Rasulullah, Suhail berkata, “Silahkan! Tuliskan satu perjanjian antara kami dan kalian!” Kemudian Rasulullah memanggil penulisnya (menurut riwayat Muslim, penulis yang dimaksud adalah Ali bin Abi Thalib ra.) dan bersabda, “Tulislah Bismillahirrahmanirahiim“.

Suhail menukas, “Demi Allah, kami tidak tahu apa itu “Ar-Rahman“, tulislah Bismillahumma“. Kemudian kaum Muslimin berkata, “Demi Allah, kami tidak mau menulis kecuali Bismillahirrahmanirrahiim“.

Rasulullahlalu bersabda, “Tulislah Bismikallahumma, ini adalah perjanjian yang dibuat oleh Muhammad Rasul Allah“. Suhail menolak dan berkata, “Demi Allah, seandainya kami mengakui bahwa engkau adalah Rasul Allah, niscaya kami tidak menahanmu untuk datang ke Baitullah dan memerangi kamu.Tetapi tulislah Muhammad bin Abdullah“.

Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Demi Allah, aku adalah Rasul Allah seandainya kalian mendustakanaku! … Tulislah Muhammad bin Abdullah“.

Di dalam riwayat Muslim disebutkan Rasulullah memerintahkan Ali agar menghapusnya, lalu Ali berkata, “Demi Allah aku tidak mau menghapusnya.“ Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Tunjukkanlah kepadaku mana tempatnya“. Lalu Ali menunjukkannya dan Rasulullah pun menghapusnya sendiri.

Adapun isi dari perjanjian Hudaibyah, yaitu :

1. Kaum muslimin melakukan thawaf tahun ini, tetapi kaum musyrikin melakukannya tahun depan. Saat thawaf, kaum muslimin tidak boleh membawa senjata, kecuali pedang di dalam sarungnya.

2. Jika ada seorang dari kaum musyrikin datang ke Madinah maka harus dikembalikan ke Mekkah walaupun telah memeluk agama Islam. Jika orang muslim datang ke kota Mekkah maka tidak wajib dikembalikan.

3. Gencatan senjata selama 10 tahun.

Perjanjian perdamaian dengan syarat-syarat tersebut menurut riwayat Ibnu Ishaq dan Ibnu Sa‘Addan Al-Hakim berlaku selama 10 tahun selama itu tidak boleh dilanggar dan dikhianati. Siapa yang ingin bersekutu dengan Quraisy, mereka bebas melakukannya. Maka suku Khuza‘ah segera mengumumkan persekutuannya dengan RasulullahSAW. Sementara Bani Bakar memilih bersekutu dengan suku Quraisy. Setelah penulisan perjanjian selesai maka dimintalah beberapa saksi dari kedua pihak.

Di Dalam Ash-Shaihain disebutkan karena merasa perjanjian tersebut berat sebelah, Umar bin Khattab bertanya kepada Rasulullah “Bukankah engkau Nabi Allah?” Beliau menjawab, “Ya, benar!“.

Umar bertanya kembali, “Bukankah engkau di pihak yang benar dan musuh kita

berada di atas kebathilan?“ “Ya, benar“, jawab Rasulullah.

Umar kembali bertanya, “Bukankah orang-orang kita yang terbunuh akan masuk surga dan orang-orang mereka yang terbunuh akan masuk neraka?“ “Ya, benar”, jawab Rasulullah.

“Lalu kenapa kita menyetujui agama kita direndahkan?“

“Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah, aku tidak akan menyalahi perintah-Nya dan Dia pasti akan membelaku!“.

“Bukankah engkau telah menjanjikan bahwa kita akan datang keBaitullah untuk

melakukan Thawaf?“ “

“Ya, benar“.

Rasulullah bersabda, “Tetapi apakah aku mengatakan bahwa engkau datang ke sana tahun ini?“

“Tidak”, jawab Umar.

“Engkau pasti akan datang dan Thawaf di Baitullah”, tegas Rasulullah SAW.

Namun, Umar bin Khattab tidak dapat bersabar hingga mendatangi Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk menanyakan apa yang tadi ia tanyakan kepada Rasulullah. Abu Bakar lalu berkata, “Wahai Ibnu Khattab, sesungguhnya dia adalah Rasul Allah, dia tidak akan menyalahi perintah Rabb-nya dan Allah pun tidak akan membiarkannya.”

Tak lama kemudian turunlah surat Al-Fath kepada Rasulullah SAW. Lalu beliau segera

memanggil Umar dan membacakan surat Al-Fath itu kepadanya. Abu Bakar bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu kemenangan (Al-Fath)?“ Rasulullah menjawab, “Ya.” Barulah hati Umar menjadi senang.

Rasulullah kemudian mendatangi para sahabatnya dan bersabda, “Bergerakklah! Sembelilah hewan qurban kalian, kemudian bercukurlah!“. Rasulullah mengulangi perintahnya sampai 3 kali, tetapi tidak ada seorang pun yang melaksanakannya. Beliau lalu masuk ke dalam kemahnya dan menceritakan hal tersebut kepada Ummu Salamah ra. Ummu Salamah pun berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Anda ingin supaya mereka melaksanakan perintah itu ? Keluarlah, tetapi jangan berbicara sepatah katapun dengan salah seorang dari mereka. Sembelih lah ternak qurban Anda sendiri, lalu panggilah tukang cukur Anda dan bercukurlah!“. Rasulullah kemudian keluar dan tidak berbicara dengan seorang pun serta melakukan hal seperti yang disarankan oleh istri beliau.

Ketika kaum muslimin melihat perbuatan Rasulullah yang telah disarankan oleh Ummu Salamah sebelumnya, mereka segera bertindak beramai-ramai menyembelih hewan qurban dan saling mencukur bergantian. Demikian ributnya hingga kegirangan mereka hampir membunuh mereka satu sama lain.

Hikmah Perjanjian Hudaibiyah :

1. Pengakuan kaum Quraisy terhadap keberadaan kaum muslimin.

2. Ketenangan dan kaum muslimin beristirahat dari peperangan yang tidak ada awal dan akhirnya.

3. Perdamaian memungkinkan kaum muslimin dan musyrikin bergaul dengan leluasa, sehingga kaum musyrikin bisa menyaksikan akhlak dan kemuliaan Islam.

4. Semakin banyak kaum musyrikin yang masuk Islam.

5. Orang-orang lemah yang mulai beriman di kota Mekkah mulai menampakkan keislamannya.

Sumber :

Sirah Nabawiyah jilid 3 karya Said Ramadhani Al-Buthy

Tinggalkan Balasan

Recent Posts

Penyaluran Bantuan Gempa Lombok melalui FK Unram

Duka menyelimuti pulau Lombok. Pada akhir juli dan awal agustus, pulau seribu masjid ini diguncang gempa dengan kekuatan besar yaitu 6.4 SR dan 7.0 SR. Gempa susulan pun terjadi berulangkali setelah gempa utama tersebut. Beberapa rumah warga dan infrastruktur rusak, korban berjatuhan akibat tertimpa bangunan, keadaan memprihatinkan warga yang tinggal di pengungsian, dan keadaan lain […]

Webinar Bedah Buku “Islam, Sains, dan Kesehatan” karya dr. M. Saifudin Hakim dkk di FK Unram

Pernahkah kita membaca atau mendengar suatu hal yang dikaitkan dengan ajaran Islam dan sains? Banyak yang berdecak kagum ketika hal yang berlabel “islami” dapat dihubungkan dengan sains walaupun itu hanya opini. Doktor dokter Saifudin Hakim dkk menulis sebuah buku yang sangat informatif dan edukatif baik untuk kalangan akademisi maupun masyarakat umum. Buku ini khususnya membahas […]

Air Zamzam dengan Segudang Manfaat Didalamnya

Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Air zamzam  mendatangkan khasiat dengan niat untuk apa air itu diminum”. (HR. Ibnu Majah) Ibnu Abbas radhiallahu anhu menambahkan dalam riwayatnya, “Air zamzam memenuhi tujuan untuk apa ia diminum; jika engkau meminumnya dengan niatan untuk menyembuhkan penyakitmu, Allah akan menyembuhkan penyakitmu dan jika […]

Event SKI Asy-Syifa

no event