SKI Asy-Syifa

Opinions

Bunda.. aku ingin syaitan menangis lebih lama

Bunda.. aku ingin syaitan menangis lebih lama

“Semakin tinggi pohon menjulang, semakin kencang angin menghempas.”
Tidak dapat dipungkiri bahwa semakin tinggi cita-cita manusia, maka semakin banyak pula rintangan yang akan dihadapi. Saudariku, apa cita-cita yang paling ingin kau capai beberapa saat lalu, saat ini, bahkan hingga akhir hayat-mu? Masing-masing pasti memiliki jawaban yang berbeda. Bukanlah suatu hal terlarang bagi kaum perempuan pada era demokrasi yang menjunjung tinggi kesetaraan gender dan hak asasi untuk bercita-cita mengenyam pendidikan tinggi bahkan bercita menjadi presiden sekalipun. Lalu, apakah Islam melarang segala hal yang dihalalkan pada era ini? Tengoklah bagaimana Islam telah mengaturnya dalam dua kunci kehidupan, Al-Qur’an dan Al-Hadits. Betapa bodohnya jika berkata “wanita muslim sungguh terkungkung dengan hijabnya”, na’udzubillah. Sesungguhnya, Islam-lah yang mengantarkan wanita menjadi makhluk yang “diakui”, maka sepatutnya cita-cita tertinggi seorang mukminah ialah sebagaimana yang telah diajarkan oleh Islam, melalui sabda Rasul-Nya:
“Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim).
Namun, tidaklah mudah. Sesuatu itu dikatakan berharga karena ia langka, dan sesuatu itu menjadi langka karena ia sulit untuk digapai. Menggapai cita menjadi sebaik-baik perhiasan dunia tentulah sangat sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin. Hanya wanita yang mengerti betapa berharganya ia yang akan terus berjuang menjadi barang langka yang bernama “wanita shalihah.”
Wanita shalihah itu ialah sebagaimana yang tercatat dalam kitabNya,
“………sebab itu, maka wanita yang shalih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka.” (Q.S An Nisa’:34)
Wanita yang memiliki agama ialah wanita yang senantiasa memiliki ketakwaan. Ia senantiasa menjaga apa yang telah Allah wajibkan kepadanya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sesungguhnya, wanita itu lebih mudah terpengaruh dan berpindah dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain, maka tetaplah memohon kepada Allah keteguhan di jalan-Nya dan pilihlah teman yang tepat.
Sesungguhnya, teman itu memiliki pengaruh terhadap teman dekatnya, sebagaimana di dalam Ash-Shahihain, dari Abu Musa ia berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Permisalan teman duduk yang shalih dan teman duduk yang buruk seperti pembawa minyak wangi dan pandai besi. Maka pembawa minyak wangi itu mungkin ia akan memberimu dan mungkin engkau akan membeli darinya, sedang pandai besi mungkin akan membakar pakaianmu dan mungkin juga kamu akan mendapatkan bau busuk darinya”. Sesungguhnya, seorang wanita yang memiliki agama akan disenangi oleh orang yang memiliki agama pula, dan sebaliknya.
Wanita memiliki rahim yang dilalui seorang anak adam sebelum mencapai alam dunia. Wanita ditakdirkan untuk mengandung, menyusui, serta berpeluh melayani suami dan mendidik anak-anaknya. Di situlah kemuliaan yang harus diperjuangkan oleh seorang “wanita shalihah”. Bibit yang ditanam pada tanah yang baik akan tumbuh, namun hanya seadanya lalu mati sebelum sempat menebar manfaat. Adapun bibit yang di tanam pada tanah yang baik lagi disiram dan diberi pupuk akan terus bertumbuh hingga suatu saat berbuah lebat dan memberi keteduhan bagi musafir yang melewatinya, dialah jundi-jundi yang terlahir dari rahim wanita shalihah.
Dalam mukaddimah buku beliau yang berjudul “Ibunda para Ulama”, Al-Ustadz Sufyan bin Fuad Baswedan menceritakan isi ceramah yang disampaikan guru beliau Syaikh DR. Muhammad al-‘Areefy yang berjudul “ Mas-uuliyyatur Rajuli fi Usratihi”, menegaskan bahwa terkadang ibu berperan lebih dalam mendidik anak daripada bapak. Syaikh lalu mengisahkan tentang salah seorang sahabatnya yang suatu ketika bepergian naik mobil bersama temannya di Jeddah. Dalam mobil tersebut teman dari sahabat syaikh mengajak dua orang anaknya yang berumur sekitar empat dan lima tahun. Sahabat sang syaikh merasa bahwa ayah dari kedua anak tersebut bukan tipe laki-laki yang sangat taat beragama, namun ketika mobil hendak naik ke jalan layang, serempak anak-anaknya bertakbir.
Rupanya anak-anak itu paham bahwa Rasulullah SAW dalam safarnya bila menapaki jalan menanjak beliau bertakbir, dan bila menuruni lembah beliau bertasbih. Sahabat syaikh terheran-heran karena memang dia merasa ayah anak-anak tersebut bukanlah laki-laki yang sangat taat beragama. Rasa penasaran terus mengusik, lalu sahabat syaikh bertanya pada temannya, kita sebut saja si fulan,
“Fulan, mashaallah, engkau bukanlah santri dan bukan juga seorang aktivis, tapi anak-anakmu mampu menerapkan sunnah sedemikian rupa, apa rahasianya?”
“Ya akhi, ini bukan hasil didikanku, tapi hasil didikan ibu mereka” jawab si fulan.
“Istriku memang mashaallah! Semoga Allah membalas kebaikannya. Dia betul-betul ibu teladan. Dialah yang mengajari anak-anak do’a sebelum tidur, do’a bangun tidur, do’a sebelum dan setelah makan, do’a masuk dan keluar WC, do’a ini dan itu, bahkan dia memiliki cara unik dalam mendidik anak kami” lanjut si fulan.
“Bagaimana caranya?” tanya sahabat syaikh.
“Kalau sekali waktu anak-anak bertengkar di rumah, lalu salah satu dari mereka berkata kasar kepada saudaranya, maka istriku memanggilnya dan melakukan dialog yang penuh dengan nilai tarbiyyah” jawab si fulan.
Selanjutnya, si fulan menceritakan dengan mata berkaca-kaca bagaimana dialog antara istri dan anak-anaknya:
“Hai nak, sini sebentar” ucap istriku.
“ Apa ma? Apakah mMama hendak memukulku?” tanya anakku.
“ Tidak, mama cuma mau tanya, siapa yang lebih kau sayangi, Allah ataukah syaitan?” lanjut istriku.
“Tentu aku lebih sayang Allah” jawab anakku polos.
“ Tapi kamu sedang jadi temannya syaitan sekarang” kata ibunya.
“ Lho kenapa ma?” tanya anakku.
“Karena kamu berkata kasar tadi. Kalau kamu berkata kasar kamu jadi temannya syaitan. Tuh, syaitannya sekarang duduk di atas punggungmu, dan ia tertawa lebar mendengar ucapanmu tadi” kata ibunya.
“Terus ma, bagaimana supaya syaitan menangis? aku tak mau jadi temannya syaitan, aku mau jadi temannya Allah (maklum anak kecil)” kata anakku.
“Gampang. Kamu sekarang menghadap kiblat, lalu ucapkan astagfirullah seratus kali, hayo coba lakukan” kata ibunya.
“ Jadi kalau aku melakukannya syaitan akan nangis ya ma?” kata anakku.
“ Iya, kalau kamu melakukannya syaitan pasti nangis” jawab ibunya.
“Kalau begitu aku mau istigfar sekarang, astagfirullah… astagfirullah… astagfirullah…, udah belum ma?”
“ Belum, masih lima puluh lagi” kata ibunya.
” Astagfirullah… astagfirullah… astagfirullah…, udah belum?” tanya anakku.
“ Belum, tiga belas kali lagi” kata ibunya.
“Astagfirullah… astagfirullah… astagfirullah…, udah?” tanyanya lagi.
“ Ya, sudah…” kata ibunya.
“ Sekarang syaitan lagi nangis ya ma?” kata anakku.
“Iya, sekarang dia lagi nangis” kata ibunya.
“ Kalau begitu aku mau istigfar lagi, supaya nangisnya lebih lama” kata anakku sembari menambah istigfar-nya.
Tentunya, jika anak-anak dibesarkan dengan cara seperti ini, diajarkan bagaimana mendahulukan ridha Allah terhadap kepentingan pribadinya, bahkan bagaimana memenangkan Allah di atas bisikan syaitan maka biidznillah setelah dewasa akan menjadi anak-anak yang shalih. Tidaklah berlebihan jika Rasulullah mengatakan bahwa wanita shalihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia karena ia akan mempengaruhi berbagai segi kehidupan yang dengannya akan menjadi bernilai di mata Allah.

Oleh: Siti Ulfatunnajiyyah
Sumber:
Al-Wadi’iyah, Ummu Abdillah. Nasehatiy lin-nisaa’. Kairo: Daar Al-Haromain.
Al-Wadi’iyah, Ummu Abdillah, 2010. Untukmu muslimah ku persembahkan nasehatku. Sanggrahan: Maktabah Al-Ghuroba’.
Baswedan, Sufyan, 2013. Ibunda para ulama. Jakarta: Pustaka Al-Inabah.

Tinggalkan Balasan

Recent Posts

Air Zamzam dengan Segudang Manfaat Didalamnya

Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Air zamzam  mendatangkan khasiat dengan niat untuk apa air itu diminum”. (HR. Ibnu Majah) Ibnu Abbas radhiallahu anhu menambahkan dalam riwayatnya, “Air zamzam memenuhi tujuan untuk apa ia diminum; jika engkau meminumnya dengan niatan untuk menyembuhkan penyakitmu, Allah akan menyembuhkan penyakitmu dan jika […]

Dibalik Kebaikan Donor Darah

  donor/do·nor/ n  1 penderma; pemberi sumbangan; 2 penderma darah (yang menyumbangkan darahnya untuk menolong orang lain yang memerlukan): — darah. Donor darah merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Darah yang telah didonorkan ini kemudian akan ditransfusikan kepada orang yang membutuhkan. Transfusi darah bertujuan untuk mengembalikan darah yang hilang misalnya saat operasi atau pada cedera parah. […]

Api yang Berbeda

Ya dia adalah Bilal, seseorang yang sontak membuat geger penyelenggaraan Ospek waktu itu. bagaimana tidak, dia satu-satunya maba yang berani menentang senior, karena sikap senior yang tidak bisa diterima. Di saat kami dimarah-marah oleh senior, kami hanya bisa diam dan menundukkan kepala, tetapi tidak dengan dia, dia berani mengatakan salah jika salah dan menunjukkan benar […]

Event SKI Asy-Syifa

no event