SKI Asy-Syifa

Lifestyle

Bangkai Kambing yang Cacat

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhu, beliau bercerita bahwa suatu ketika Rasulullah  ﷺ  melewati pasar melalui sebagian jalan dari arah pemukiman, sementara orang-orang [para sahabat] menyertai beliau. Lalu beliau melewati bangkai seekor kambing yang telinganya cacat (berukuran kecil). Beliau pun mengambil kambing itu seraya memegang telinga nya. Kemudian beliau berkata, “Siapakah di antara kalian yang mau membelinya dengan harga satu dirham?”. Mereka menjawab, “Kami sama sekali tidak berminat untuk memilikinya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?”. Beliau kembali bertanya, “Atau mungkin kalian suka kalau ini gratis untuk kalian?”. Mereka menjawab, “Demi Allah, seandainya hidup pun maka binatang ini sudah cacat, karena telinganya kecil. Apalagi kambing itu sudah mati?” Beliau pun bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya dunia lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata kalian.” (HR. Muslim [2957])

Betapa hinanya dunia ini di sisi Allah. Sebagai seorang manusia, pernahkah kita menyadari ketika diri kita sangat mencintai dunia ini?. Seperti lebih memilih untuk bermaksiat dan melanggar perintah Allah hanya demi jutaan dolar, atau memilih meninggalkan shalat karena terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan?. Tetapi, ketika mendengar perihal kematian, justru berlari dan menutup diri karena tidak menginginkannya?

Saudaraku, ketahuilah bahwa ketika seseorang berada dalam kondisi seperti itu, hatinya sedang sakit. Bukan hanya fisik, tetapi hati kita juga bisa terkena penyakit, salah satunya adalah penyakit wahn.

Apa itu penyakit wahn?

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Akan tiba suatu saat di mana seluruh manusia bersatu padu melawan kalian dari segala penjuru, seperti halnya berkumpulnya manusia mengelilingi meja makan.”

Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah jumlah Muslim pada saat itu sedikit?” 

Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. 

Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278, shahih kata Syaikh Al Albani)

Wahn adalah penyakit cinta dunia dan takut mati. Fenomena penyakit wahn sebenarnya kita sudah rasakan secara pribadi dan sosial. Berikut ini beberapa ciri-ciri seseorang terjangkit penyakit wahn:

  1. Orientasi Hidupnya adalah Kesenangan Dunia Semata

Destinasi hidup para pengidap wahn adalah kesenangan dunia semata, baik berupa harta, jabatan, wanita, dan popularitas. Mereka menghalalkan segala macam cara untuk mencapai kenikmatan dunia yang fana ini. Sejalan dengan firman Allah berikut :

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Q.S. Al-Hadiid: 20).

Barang siapa yang bangun di pagi hari dan hanya dunia yang di pikirkannya, sehingga seolah-olah ia tidak melihat hak Allah dalam dirinya.  Maka Allah akan menanamkan empat macam penyakit padanya:

  1. Kebingungan yang tiada putus-putusnya.
  2. Kesibukan yang tidak pernah jelas akhirnya.
  3. Kebutuhan yang tidak pernah merasa terpenuhi.
  4. Khayalan yang tidak berujung wujudnya” [HR. Muslim]

Mengenai hadits empat penyakit diatas, mungkin seringkali ketika bangun tidur di pagi hari, kita tidak segera berniat sholat shubuh. Tapi, yang kita pikirkan adalah hutang, chat sosial media yang belum dibalas, tugas kuliah, dan banyak pikiran dunia lainnya. Sehingga, Allah menanamkan 4 penyakit diatas.

  1. Malas dalam Kebaikan

Contoh malas dalam berbuat amal sholih yang sering terjadi adalah menunda sholat. Orang yang terkena wahn akan berfikir jika masih sempat shalat di ujung waktu, mengapa harus repot-repot shalat di awal waktu? Nanti saja sholat, episode film ini belum selesai, masih lama waktu isya’ dan macam-macam alasan kreatif yang berujung kelalaian.  Padahal jelas bahwa Allah senantiasa mengingatkan kita agar tidak lalai mengingatNya:

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munafiqun : 9)

  1. Menunda-nunda Taubat

Menjelang tidur, pengidap penyakit ini akan berjanji bertaubat keesokan harinya. Tapi, setelah mengetahui dirinya masih hidup saat terbagun dari tidur, ia akan berniat taubatnya. Ketika melakukan dosa, dan ia menyadari bahwa itu adalah dosa, akan tetapi hatinya tak pernah tergerak untuk merasa menyesal, serta tak ada terlintas untuk menghentikan perbuatan dosa tersebut.

Padahal, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kita bahwa dunia dan isinya itu terlaknat:

Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu terlaknat. Semua yang ada di dalamnya terlaknat kecuali dzikrullah serta orang yang berdzikir, orang yang berilmu agama dan orang yang mengajarkan ilmu agama.“ (HR. Tirmidzi)

  1. Berani Mengorbankan Agama dan Keimanan untuk orientasi Dunia

Pengidap penyakit ini tidak memiliki rasa malu untuk merendahkan dirinya, ia rela membuka aurat, meminum khamr, berkhalwat dengan lawan jenis, sepertinya bukan hal yang sulit dilakukan demi mendapatkan gaji yang banyak.

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Hud 15-16).

  1. Suka Menimbun Harta dan Pelit Bersedekah

Hobi pengidap penyakit wahn adalah menimbun harta dengan melakukan riba, sangat enggan bersedekah. Apa yang diperoleh merupakan hasil kerja kerasnya, mengapa harus berbagi pada orang lain yang pemalas dan tidak bisa menghasilkan uang?

Andai anak Adam diberi emas satu lembah, ia ingin mendapat dua lembah. Tidak ada yang dapat membungkam mulutnya selain tanah, dan Allah mengabulkan taubat hamba-Nya yang bertaubat.” (HR. Bukhari-Muslim).

  1. Tidak Bersyukur

Penderita wahn seringkali merasa nasib orang lain lebih beruntung daripada nasib dirinya. Ketika melihat temannya memiliki mobil yang mewah, ia merasa iri dan mengutuk diri sangat malang. Merasa tak pernah cukup dan selalu merasa dirundung ketidakadilan atas nikmat dari Allah.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

 

Hal diatas juga sejalan dengan pernyataan Imam Qurthubi dalam At Tadzkiroh mengenai perkataan Ad Daqoq: Sedangkan kebalikannya adalah orang yang melupakan kematian, maka ia terkena hukuman: menunda-nunda taubat, tidak mau ridho dan merasa cukup terhadap apa yang Allah beri, dan bermalas-malasan dalam ibadah. Sedangkan mengenai keutamaan seseorang yang banyak mengingat mati adalah ia akan menyegerakan taubat, memiliki hati yang qona’ah (selalu merasa cukup), dan bersemangat dalam ibadah.

Pembaca setia web SKI FK Unram, dalam HR. Muslim, Rasululullah ﷺ  mengumpamakan bahwa dunia ini lebih buruk seonggok bangkai kambing yang cacat. Jadi, untuk apa kita memperebutkan hal seburuk itu. Tetapi, bukan berarti dengan itu kita meninggalkan bagian kita di dunia ini. Allah berfirman:

Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allâh kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allâh telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di  bumi. Sungguh, Allâh tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.”[QS. Al-Qashash/28:77]

Gapailah yang kita butuhkan di dunia ini dan carilah rezeki yang halal. Allah menjadikan dunia ini sebagai kehidupan. Begitu juga dunia ini kita jadikan kesempatan untuk beramal sebanyak-banyaknya untuk bekal kita di akhirat nanti. Dunia ini hanya sekejap, jadikanlah ia untuk ketaatan. Siang dan malam terus berputar, maka teruslah kita menuntut ilmu syar`i, melakukan amal- amal sholeh dengan ikhlas dan ittiba dan terus berdzikir mengingat Allah.

Allâh berfirman,

Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami” [QS. Al-Anbiyâ`/21:90]

Semoga penyakit wahn ini tidak terdapat dalam diri kita. Semoga semua selalu dalam hidayah dan ridho Allah.

Sumber :

  1. https://muslim.or.id/6292-kaya-tanpa-iman.html
  2. https://almanhaj.or.id/5862-dunia-lebih-jelek-daripada-bangkai.html
  3. Rumaysho.com
  4. tabungwakaf.com

 

Tinggalkan Balasan

Recent Posts

MEDICAL QURBAN FEST 1439H – Fakultas Kedokteran Universitas Mataram

[Medical Qurban Fest 1439 H] Assalamualaikum Ikhwahfillah… Panitia Qurban Fakultas Kedokteran Universitas Mataram menerima dan menyalurkan hewan qurban kepada KORBAN GEMPA LOMBOK… Pemilihan hewan qurban dapat dilihat pada poster di atas. Bagi yang ingin mendaftar dapat menghubungi: – Chairul (085274959906) – Tiara (087754844610) No. Rekening: 2690283461 TIARA KUSUMA DN SAWENGI BCA KCP PRAYA Mari berbagi […]

Ingin Kulit Bersih Setiap Saat? Berwudhulah

Kulit adalah organ tubuh terbesar yang terdiri dari epidermis, dermis, dan aksesoris, seperti rambut, kuku, sebasea (kelenjar minyak), dan kelenjar keringat. Sekitar 10 partikel tersebar ke kulit dari udara setiap harinya dan sekitar 10% kulit kita mengandung bakteri. Karena kulit terus terpapar oleh lingkungan sekitar, kulit memainkan peran penting dalam melindungi tubuh kita dari patogen […]

Bagaimana Metabolisme Tubuh Kita Saat Puasa?

  Puasa merupakan ibadah yang biasa dilaksanakan oleh umat Islam, baik itu puasa wajib maupun sunnah. Puasa tidak hanya semata – mata sebagai ibadah, namun juga melatih kita untuk menahan hawa nafsu dan meningkatkan ketaatan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Bulan lalu umat Islam telah melaksanakan ibadah wajib puasa Ramadhan selama sebulan penuh, kemudian […]

Event SKI Asy-Syifa

no event