SKI Asy-Syifa

Figure

Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran Unram : Hidup adalah Perjuangan

Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran Unram : Hidup adalah Perjuangan

Salah satu dosen sekaligus Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran Universitas Mataram, dr. Arfi Syamsun, Sp.KF, lahir pada 8 Januari 1979. Saat ini, beliau telah berkeluarga dan bertempat tinggal di Mataram, NTB.

Sejak kecil, beliau selalu didoktrin oleh ayahnya untuk menjadi seorang dokter. Semakin beranjak dewasa ada tiga profesi yang beliau impikan, yaitu guru, insinyur,  dan dokter. Setelah lulus dari SMA Negeri 1 Selong di tahun 1997, dr. Arfi diterima di jurusan teknik sipil namun beliau memilih untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro dan juga mengambil spesialis kedokteran forensik di Universitas Diponegoro.

Dari orang tuanya, beliau diberikan nasihat berupa sebuah ayat Al-Qur’an yakni surah Ali imran ayat 104,

“”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”

Dokter merupakan profesi yang dekat dengan ayat ini, sehingga menjadi salah satu alasan mengapa dr. Arfi memilih berprofesi sebagai dokter. Menurut beliau, dokter merupakan profesi yang membanggakan di mata Allah dan juga manusia. Selain sebagai dokter, beliau juga mendapatkan kesempatan untuk menjadi dosen.

Ketika diberikan pertanyaan alasan memilih kedokteran forensik, dr. Arfi menceritakan bahwa pada awalnya beliau memiliki keinginan untuk menekuni ilmu penyakit dalam. Namun, karena kekurangan dalam hal biaya, beliau belum bisa mewujudkan keinginannya tersebut. Saat itu, beliau  sudah cukup menjadi asisten dosen anatomi sehingga ‘bergaul’ dengan jenazah adalah hal yang sudah biasa. Pada saat penawaran beasiswa, beliau memilih spesialisasi kedokteran forensik karena belum ada peminatnya.

Pada awalnya, terdapat kesukaran tersendiri ketika menjalaninya. Tahun pertama merupakan yang terberat. Seiring berjalannya waktu, di tahun kedua dan seterusnya, beliau sudah bisa beradaptasi. dr. Arfi mendapat motivasi dari guru-guru beliau bahwa dari sisi keadilan, ilmu forensik ini sangat membantu sekali. Jika ada seseorang yang terbunuh dan pembunuhnya masih berkeliaran, bisa terjadi keresahan di masyarakat. Di sinilah salah satu pentingnya ilmu kedokteran forensik untuk membantu menyelesaikan sebuah kasus peradilan. Keadilan merupakan hal yang penting dalam agama Islam dan harus ditegakkan. Seiring berjalannya waktu, yang awalnya karena keterpaksaan, sekarang beliau semangat dalam bidang ini karena merupakan fardu kifayah.

dr. Arfi datang kembali ke NTB pada tahun 2010. Saat itu, kedokteran forensik merupakan hal yang baru. Penghargaan secara material maupun nonmaterial belum beliau dapatkan, sehingga beliau sangat berjuang keras saat itu dalam menjalankan pekerjaannya. Menurut beliau, semua yang baru selalu membutuhkan perjuangan.

Mulai tahun 2014, pekerjaan beliau sudah mulai stabil. Usulan beliau pada peraturan gubernur sudah diterima dan beberapa rumah sakit juga membutuhkan beliau terkait akreditasi. Di tahun 2015, sudah terdapat penghargaan material dan nonmaterial yang beliau terima. Menurut dr. Arfi, kita akan merasa puas ketika pekerjaan kita dihargai.

Saat menjalankan profesinya, dr. Arfi tentu sering mengotopsi jenazah. Hal yang beliau dapatkan secara pribadi selama melaksanakan otopsi adalah kepuasan, yakni rasa puas karena bisa mengungkap kematian seseorang, baik itu cara, waktu, maupun penyebab kematian. Rata-rata jenazah yang diotopsi selama satu tahun adalah 29 jenazah.

Kendala terbesar beliau saat ini sebagai dokter forensik di NTB adalah terkait Program Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan (P2KB). Pendidikan seperti seminar, workshop, dan pelatihan-pelatihan terkait bidang yang beliau tekuni hanya ada di Pulau Jawa. Beliau harus mengeluarkan banyak sumber daya untuk bisa mengikutinya. Jika P2KB ini tidak terpenuhi, maka pemrosesan Surat Tana Registrasi (STR) akan sulit.

dr, Arfi merasa bahwa sampai saat ini, beliau adalah seorang pembelajar. Jika dari awal kita merasa sebagai seorang pembelajar, maka kita akan belajar seumur hidup, tidak ada kata berhenti untuk belajar. Belajar itu sepanjang hayat, baik ilmu kedokteran dan ilmu agama. Dalam proses belajar hidup, agama, dan berdakwah tidak ada kata akhir.

Setiap pembelajaran selalu ada masalah. Masalah itu ada untuk dihadapi dan dicari solusinya sehingga kita akan semakin kuat. Setiap ujian yang diberikan Allah merupakan saran untuk meningkatkan derajat kita.  Jadi, ketika seorang mahasiswa mendapat banyak masalah misalnya tugas, maka jangan mundur dan tetaplah berusaha. Jangan membiasakan diri berkata tidak, tapi ambillah tantangan itu. Hidup adalah perjuangan, dan perjalanan kita belum selesai, kita masih tetap menjadi pembelajar. Begitulah pesan beliau kepada kita semua.

Penulis : Shofi Suryalathifani

Pewawancara : Azhar Rafiq

Tinggalkan Balasan

Recent Posts

Kegiatan Kesmas Al-Wafi 2018

Transfusi darah adalah kegiatan dalam membantu penyembuhan manusia ketika kadar darah dalam tubuh dibawah yang seharusnya. Menyumbangkan darah kepada orang lain yang amat membutuhkannya menurut kesepakatan para ahli fikih termasuk dalam kerangka tujuan syariat Islam, yaitu menghindarkan salah satu bentuk kemudaratan yang akan menimpa diri seseorang. Meskipun pada hakikatnya darah yang dikeluarkan dari tubuh manusia […]

7 Cara Menenangkan Hati

Selama manusia hidup, kesenangan dan kesedihan selalu bergantian mengisi hari-hari. Permasalahan yang terus-menerus datang, baik itu ringan maupun berat, akan memberikan dampak pada hati seseorang. Ketika dihadapkan dengan masalah, manusia sering menghindarinya. Namun, dengan menghindari masalah yang dimiliki, hati akan merasa tidak tenang. Dalam Islam, kita diajarkan cara untuk membuat hati menjadi tenang dan selalu […]

Tutur Kata yang Baik

Saudaraku.. Mungkin dari kita sering atau suka menggunakan kata-kata yang tidak baik. Kata dusta. Kata hinaan. Serta ujaran kebencian. Kata-kata tersebut diucapkan baik saat bercanda, atau sedang serius, marah, dan sebagainya. Ada pula yang mengatakannya demi memuaskan diri saja. Atau ingin menjatuhkan suatu tokoh yang terkenal. Wahai saudaraku, apakah baik sikap muslim seperti itu ? […]

Event SKI Asy-Syifa

no event