SKI Asy-Syifa

Islamic History

Wahyu Terakhir dan Akhir Hayat Rasulullah ﷺ: Cambuk Ukasyah

Wahyu Terakhir dan Akhir Hayat Rasulullah ﷺ: Cambuk Ukasyah

Turunnya surah Al-Ma’idah ayat 3 sebagai ayat terakhir mengharuskan Rasulullah ﷺ mengumpulkan seluruh sahabat untuk mengumumkan hal tersebut. Rasulullah pun menceritakan apa yang telah diberitahukan oleh malaikat Jibril  kepadanya. Para sahabat lantas bersuka cita mendengar hal itu. Sorak gembira tergema di dalam Masjid, “Agama kita telah sempurna! Agama kita telah sempuna!”

Lain halnya dengan Abu Bakar As-Shiddiq, hal tersebut justru membuatnya sangat sedih. Ia pulang dan mengunci pintu rumahnya kemudian menangis sekuat-kuatnya. Hal ini diketahui oleh para sahabat yang lain, maka berkumpul lah para sahabat di depan rumah Abu Bakar dan bertanya, “Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuatmu menangis hingga seperti ini? Seharusnya kau merasa gembira sebab agama kita telah sempurna.”

 

Wahai para sahabatku, kalian semua tidak tahu tentang musibah yang akan menimpamu. Tidakkah kalian tahu bahwa apabila suatu perkara itu telah sempurna, maka akan kelihatan lah kekurangannya. Turunnya ayat tersebut menunjukkan perpisahan kita dengan Rasulullah. Hasan dan Husein menjadi yatim, dan para isteri Rasul menjadi janda, terang Abu Bakar.

 

Mendengar penjelasan Abu Bakar, para sahabat tersadar. Mereka ikut menangis dengan sekuat-kuatnya. Tangisan mereka telah didengar oleh para sahabat yang lain menyebabkan seorang sahabat memberitahu Rasulullah tentang apa yang mereka lihat. Rasulullah pun bergegas menuju rumah Abu bakar.

 

Setibanya di rumah Abu Bakar, beliau bertanya, “Wahai para sahabatku, kenapa kalian semua menangis?”
Ali bin Abi Thalib berkata, “Ya Rasulullah, Abu Bakar mengatakan dengan turunnya ayat ini membawa tanda bahwa waktu wafatmu telah dekat. Apakah ini benar ya Rasulullah?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Sesungguhnya semua yang dikatakan Abu Bakar itu benar, dan sesungguhnya waktu untuk aku meninggalkan kalian semua telah dekat.”
Hal itu lantas membuat seluruh sahabat yang berada di sana tak bisa membendung air mata. Setelah peristiwa itu, dikumpulkanlah seluruh sahabat oleh Rasulullah ﷺ di Masjid, kemudian Rasulullah ﷺ bersabda di atas mimbar, “Sesungguhnya aku akan pergi menemui Allah. Dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan manusia. Maka aku ingin bertanya kepada kalian semua. Adakah aku berhutang kepada kalian? Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut. Karena aku tidak mau bertemu dengan Allah dalam keadaan berhutang dengan manusia.”
Kala itu semua sahabat terdiam. “Bagaimana bisa Rasulullah berhutang dengan kita? Kita lah yang banyak berhutang kepada Rasulullah”, benak para sahabat. Rasulullah ﷺ mengulangi pertanyaan itu sebanyak 3 kali. Tiba-tiba seorang lelaki yang bernama Ukasyah bin Muhshan berdiri lantas berkata, “Ya Rasulullah! Aku ingin sampaikan masalah ini. Aku masih ingat ketika Perang Uhud dulu, kala itu Engkau menunggang kuda, lalu Engkau pukulkan cambuk ke belakang kuda. Tetapi cambuk tersebut tidak mengenai belakang kuda, tapi justru terkena pada dadaku, karena ketika itu aku berdiri di belakang kuda yang engkau tunggangi”.

Mendengar itu Rasulullah ﷺ berkata, “Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Ukasyah. Kalau dulu aku memukulmu, maka hari ini aku akan terima hal yang sama.”
Dengan suara yang agak tinggi, Ukasyah berkata, “Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah.”

Ukasyah seakan-akan tidak merasa bersalah. Hal itu membuat sebagian sahabat berteriak, “Sungguh Engkau tidak berperasaan wahai Ukasyah. Bukankah Baginda Rasul dalam keadaan sakit?!”.

Ukasyah tidak menghiraukan semua itu. Semua sahabat sangat marah dengan apa yang baru saja dilakukan Ukasyah. Lantas, diperintahkanlah Bilal oleh Rasulullah ﷺ ke rumah Fatimah untuk meminta cambuk. Dibawanya cambuk itu ke hadapan Ukasyah kemudian ia mendekati Rasulullah. Abu bakar berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata, “Ukasyah! kalau kamu hendak memukul beliau, pukul lah aku! Aku orang pertama yang beriman dengan Rasulullah. Aku lah sahabatnya di kala suka maupun duka. Jikalau engkau hendak memukul, maka pukul lah aku!”.
Melihat Abu Bakar menghalangi Ukasyah, Rasulullah berkata, “Duduklah wahai Abu Bakar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah”.

Ukasyah melanjutkan langkahnya menuju mimbar Rasulullah. Kemudian Umar berdiri sambil mengusap air matanya mencoba menghalangi Ukasyah, “Ukasyah! kalau kau mau memukul Rasulullah, pukul lah aku. Dulu memang aku tidak suka mendengar nama Muhammad, bahkan aku pernah berniat untuk menyakitinya, namun sekarang tidak boleh ada seorang pun yg boleh menyakiti Rasulullah. Kalau engkau berani menyakitinya, maka langkahi dulu mayatku!”.
“Duduklah wahai Umar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah”, pinta Rasulullah ﷺ.

Kembali Ukasyah melangkahkan kakinya menuju Rasulullah. Berdirilah Ali bin Abu Thalib, sepupu sekaligus menantu Rasulullah. Dia menghalangi Ukasyah sambil berkata, “Ukasyah, pukullah aku saja! Darah yg sama mengalir pada tubuhku ini wahai Ukasyah”.
Air Mata Ali berlimang. Wajahnya penuh harap agar Ukasyah bisa mengabulkan permohonannya. Melihat itu Rasulullah menjawab, “Duduklah wahai Ali, ini urusan antara aku dengan Ukasyah .

Ukasyah semakin dekat dengan Rasulullah. Tiba-tiba bangkitlah kedua cucu kesayangan Rasulullah, yaitu Hasan dan Husein. Mereka berdua memegangi tangan Ukasyah sambil memohon dengan air mata bercucuran di pipinya, “Wahai Paman, pukul lah kami! Kakek kami sedang sakit, pukul lah kami saja wahai Paman. Kami memohon paman, sesungguhnya kami ini cucu kesayangannya. Dengan memukul kami, sesungguhnya itu sama dengan menyakiti kakek kami”. Lalu Rasulullah berkata, “Wahai cucu-cucu kesayanganku, duduklah! Ini urusan Kakek dengan Paman Ukasyah”.

Begitu sampai di tangga mimbar, dengan lantang Ukasyah berkata, “Bagaimana aku mau memukulmu ya Rasulullah, Engkau duduk di atas dan aku di bawah. Kalau Engkau mau aku pukul, maka turunlah ke bawah sini!”

Sungguh, Rasulullah adalah manusia yang memiliki suri tauladan yang sempurna. Kekasih Allah itu meminta beberapa sahabat memapahnya ke bawah. Rasulullah didudukkan pada sebuah kursi, lalu dengan suara tegas Ukasyah berkata lagi, “Dulu waktu engkau memukul aku, aku tidak memakai baju, ya Rasulullah”.

Dalam keadaan lemah Rasulullah ﷺ membuka bajunya. Kemudian terlihat lah tubuh Rasulullah yg sangat indah, sedang beberapa batu terikat di perutnya, pertanda Rasulullah sedang menahan lapar. Para sahabat semakin tak tega, bercucuran air mata mereka. Rasulullah pun berkata, “Wahai Ukasyah, segeralah dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Nanti Allah akan murka padamu.”

Ukasyah lantas berlari menuju Rasulullah. Cambuk di tangannya ia lemparkan. Dipeluknya tubuh Rasulullah ﷺ dengan sangat erat dan penuh kecintaan. Sambil menangis sejadi-sejadinya, Ukasyah berkata, “Ya Rasulullah, ampuni aku, maafkan aku, mana ada manusia yang sanggup menyakitimu ya Rasulullah. Sengaja aku melakukannya agar dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu. Seumur hidupku aku bercita-bercita dapat memelukmu. Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka. Dan sungguh aku takut dengan api neraka. Maafkan aku ya Rasulullah.”

Rasulullah dengan senyum berkata, “Wahai sahabat-sahabatku semua, kalau kalian ingin melihat ahli Surga, maka lihatlah Ukasyah!”

Semua sahabat meneteskan air mata. Masjid itu gema dengan isak tangis. Para sahabat lalu bergantian memeluk Rasulullah ﷺ.

 

– Disarikan dari berbagai sumber –

Penulis : Zakiyuddin Abdul Azam

Tinggalkan Balasan

Recent Posts

Air Zamzam dengan Segudang Manfaat Didalamnya

Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Air zamzam  mendatangkan khasiat dengan niat untuk apa air itu diminum”. (HR. Ibnu Majah) Ibnu Abbas radhiallahu anhu menambahkan dalam riwayatnya, “Air zamzam memenuhi tujuan untuk apa ia diminum; jika engkau meminumnya dengan niatan untuk menyembuhkan penyakitmu, Allah akan menyembuhkan penyakitmu dan jika […]

Dibalik Kebaikan Donor Darah

  donor/do·nor/ n  1 penderma; pemberi sumbangan; 2 penderma darah (yang menyumbangkan darahnya untuk menolong orang lain yang memerlukan): — darah. Donor darah merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Darah yang telah didonorkan ini kemudian akan ditransfusikan kepada orang yang membutuhkan. Transfusi darah bertujuan untuk mengembalikan darah yang hilang misalnya saat operasi atau pada cedera parah. […]

Api yang Berbeda

Ya dia adalah Bilal, seseorang yang sontak membuat geger penyelenggaraan Ospek waktu itu. bagaimana tidak, dia satu-satunya maba yang berani menentang senior, karena sikap senior yang tidak bisa diterima. Di saat kami dimarah-marah oleh senior, kami hanya bisa diam dan menundukkan kepala, tetapi tidak dengan dia, dia berani mengatakan salah jika salah dan menunjukkan benar […]

Event SKI Asy-Syifa

no event