SKI Asy-Syifa

Health

Tidur dalam Perspektif Islam dan Sains

Tidur dalam Perspektif Islam dan Sains

Islam menganggap tidur sebagai salah satu tanda kebesaran Allah dan mendorong pengikut-Nya untuk mengeksplorasi tanda penting ini. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS. Ar-Rum : 23) Al-Qur’an menyebutkan kata tidur sebanyak sembilan kali. Dalam bahasa Arab terdapat kata umum untuk menyebutkan kata tidur (noum) dan kata lain untuk jenis tidur tertentu.

Adapun macam-macam tidur yang digambarkan dalam Al-Qur’an dan sesuai dengan tahapan tidur yang telah diidentifikasi oleh ilmuan modern adalah sebagai berikut :

  1. Sinah

Sinah didefinisikan sebagai ‘tidur’ atau ‘tertidur dalam waktu yang sangat singkat’, dimana terjadi gairah cepat setelah rangsangan lingkungan. Ini mungkin sesuai dengan tidur tahap 1 yang diidentifikasi oleh ilmuan. Sebuah ayat dalam Al-Qur’an menggunakan kata sinah saat menjelaskan Allah tidak tidur atau tertidur (QS. Al-Baqarah : 255). Dalam Al-Quran, tidur menyiratkan manifestasi kelemahan dan kebutuhan tubuh untuk beristirahat.

  1. Nu’ass

Terdapat dua ayat dalam Quran yang menyebutkan kata nu’ass. Ayat pertama mengatakan, “(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya,…” (QS. Al-Anfaal : 11). Ini menggambarkan ketakutan dan tekanan orang-orang beriman selama pertempuran Badar, sehingga Allah membuat mereka mengantuk (nu’ass) untuk memberikan perasaan aman dan lega. Nu’ass dalam ayat ini menyiratkan tidur siang sebentar, yang mungkin sesuai dengan tidur tahap 1 dan tahap 2 yang diidentifikasi oleh ilmuan modern. Baru-baru ini disarankan tidur siang sebentar dapat mengurangi stres dan tekanan darah, dengan perubahan utama pada tekanan darah yang terjadi antara waktu lampu mati dan onset pada tahap 1. Ayat kedua mengatakan, “Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah.” (QS. Ali Imran : 154)

  1. Ruqood

Kata ini memiliki banyak interpretasi, namun yang paling tepat adalah ‘tidur untuk waktu yang lama’ dan Allah  menggambarkan istilah ini di dalam Al-Quran tentang Ashabul Kahfi (QS. Al-Kahfi : 18). Al-Quran menyatakan bahwa Ashabul Kahfi tinggal di gua selama 300 tahun dalam perhitungan kalender Masehi dan ditambahkan sembilan tahun menurut kalender Qamariyah (QS. Al-Kahfi : 25).

  1. Hojoo

Kata ini menunjukkan ‘tidur di malam hari’. Istilah ini menjelaskan orang-orang saleh yang takut kepada Allah, “Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz-Dzariyat : 17-18)

  1. Subaat

Kata subaat berasal dari kata Arab sabt yang berarti melepaskan hubungan. Subaat mungkin menunjukkan adanya pemutusan hubungan kerja di lingkungan sekitar saat tidur. “Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat,” (QS. An-Naba’ : 9). Oleh karena itu, subaat dapat dianggap sebagai ‘tidur nyenyak’, sesuai dengan gelombang tidur lambat yang diidentifikasi oleh ilmuan modern. Oleh karena itu, dapat disimpulkan tahapan tidur adalah sinah dan nu’ass, diikuti  hojoo, ruqood, dan terakhir subaat.

 

Tidur Siang

Tidur merupakan praktek lintas budaya dan para ilmuan percaya bahwa tidur siang memberi manfaat bagi tubuh. Tidur singkat pada siang hari disebut Qailullah. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” (Hadist Sahih Al-Jamie, Al-Albani no. 1647). Diriwayatkan dalam HR. Bukhari (no. 5923) dikatakan, “Kami biasa menawarkan shalat Jum’at kepada Nabi dan kemudian tidur siang”. Jumat adalah akhir pekan bagi umat Islam, sehingga tidur siang pada hari Jumat dapat mengkompensasi hutang tidur yang terakumulasi selama hari kerja.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa tidur siang hari yang singkat dapat meningkatkan kewaspadaan dan fungsi kognitif, serta bermanfaat untuk konsolidasi memori. Secara spesifik, tidur siang singkat selama 10 menit dapat meningkatkan kewaspadaan dan kinerja selama 2,5 sampai 4 jam. Sebuah studi mengenai efek kesehatan dari tidur siang menyimpulkan bahwa orang yang tidur siang setidaknya tiga kali seminggu selama sekitar setengah jam memiliki angka kematian akibat penyakit jantung koroner 37% lebih rendah daripada mereka yang tidak tidur siang.

 

Irama Sirkadian

 

Dalam Al-Quran sering disebutkan kata ‘siang’ dan ‘malam sebagai salah satu tanda kebesaran Allah. “Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (QS. Al-Furqan : 62). Al-Quran menekankan pentingnya siklus gelap-terang karena menganggap manusia sebagai makhluk diurnal yang membutuhkan cahaya di siang hari dan kegelapan di malam hari. Siklus gelap-terang juga menunjukkan rahmat dari Allah subhanahu wa ta’ala.

 

Penemuan baru mengungkapkan bahwa siklus gelap-terang sangat penting untuk kalibrasi ritme sirkadian, pemeliharaan pola sirkadian, fungsi tubuh, dan sekresi hormon. Untuk menciptakan lingkungan yang sesuai untuk tidur, Al-Quran menyebutkan bahwa pendengaran anak laki-laki (salah satu Ashabul Kahfi) ditutup selama tidur, “Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu,” (QS. Al-Kahfi : 11).

Meskipun sensitivitas terhadap kebisingan berkurang saat tidur, ilmuan modern percaya bahwa tubuh masih merespons stimulasi kebisingan. Kebisingan saat tidur memiliki dampak negatif pada kualitas tidur karena dapat meningkatkan gairah, meningkatkan perubahan pada tahap tidur, menurunkan gelombang tidur  lambat, dan mengganggu REM. Selain itu, kebisingan selama tidur dapat mengganggu respon otonom dan endokrin tubuh. Reaksi otonom yang terjadi selama tidur kemungkinan kecil, namun jika terus terjadi dari waktu ke waktu dapat menyebabkan efek berbahaya, seperti peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.

 

Sumber :

BaHammam, A. S., 2011. Sleep From An Islamic Perspective. Annals of Thoracic Medicine. 6(4) pp: 187–192. [online]. Available at : <https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3183634/> [Accessed 26 November 2017]

Al-Qur’an dan Terjemahan

Muslimafiyah.com

Tinggalkan Balasan

Recent Posts

Penyaluran Bantuan Gempa Lombok melalui FK Unram

Duka menyelimuti pulau Lombok. Pada akhir juli dan awal agustus, pulau seribu masjid ini diguncang gempa dengan kekuatan besar yaitu 6.4 SR dan 7.0 SR. Gempa susulan pun terjadi berulangkali setelah gempa utama tersebut. Beberapa rumah warga dan infrastruktur rusak, korban berjatuhan akibat tertimpa bangunan, keadaan memprihatinkan warga yang tinggal di pengungsian, dan keadaan lain […]

Webinar Bedah Buku “Islam, Sains, dan Kesehatan” karya dr. M. Saifudin Hakim dkk di FK Unram

Pernahkah kita membaca atau mendengar suatu hal yang dikaitkan dengan ajaran Islam dan sains? Banyak yang berdecak kagum ketika hal yang berlabel “islami” dapat dihubungkan dengan sains walaupun itu hanya opini. Doktor dokter Saifudin Hakim dkk menulis sebuah buku yang sangat informatif dan edukatif baik untuk kalangan akademisi maupun masyarakat umum. Buku ini khususnya membahas […]

Air Zamzam dengan Segudang Manfaat Didalamnya

Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Air zamzam  mendatangkan khasiat dengan niat untuk apa air itu diminum”. (HR. Ibnu Majah) Ibnu Abbas radhiallahu anhu menambahkan dalam riwayatnya, “Air zamzam memenuhi tujuan untuk apa ia diminum; jika engkau meminumnya dengan niatan untuk menyembuhkan penyakitmu, Allah akan menyembuhkan penyakitmu dan jika […]

Event SKI Asy-Syifa

no event