SKI Asy-Syifa

Islamic History

Peradaban Islam di Indonesia : Awal Mula Masuknya Islam

Peradaban Islam di Indonesia : Awal Mula Masuknya Islam

Islam datang ke berbagai daerah di Indonesia dalam waktu yang tidak bersamaan. Kerajaan-kerajaan yang didatangi pun memiliki situasi politik dan sosial yang berbeda-beda. Pada abad ke-7 dan ke-8 M, ketika Sriwijaya mengembangkan kekuasaannya, Selat Malaka sudah mulai disinggahi oleh para saudagar-saudagar muslim dari Arab, Persia, Turki, India, dan Cina dalam pelayaran ke negeri-negeri Asia Tenggara dan Asia Timur. Berdasarkan berita Cina zaman Tang, pada abad-abad tersebut diduga masyarakat Muslim telah ada, baik Kanfu (Kanton) maupun di daerah Sumatera sendiri.

Kerajaan Majapahit yang merupakan Kerajaan Hindu berdiri pada akhir abad ke 13 M hingga awal abad ke 16 M, mencapai masa keemasan dan kebesarannya di masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350-1389), yang merupakan raja Majapahit ke-4 dan bergelar Sri Rajasanagara. Kejayaan saat itu berkaitan erat dengan ketangkasan dan keberhasilan Maha Patih Gajah Mada yang dengan tekad, segala kemampuan dan kekuatan akan menjunjung keluhuran Jawa dan kerajaan Majapahit demi satunya Nusantara.

Islam datang ke tanah Jawa tatkala kemakmuran Majapahit mulai berkurang, yakni dalam jangka 25 tahun pertama abad ke 15 M. Ketika Hayam Wuruk wafat dan digantikan oleh keponakan dan menantunya Wikramawardhana (1389-1429 M), yang menguasai seluruh daerah Majapahit kecuali Jawa Timur karena saudara sepupunya Wirabhumi diangkat Hayam Wuruk menjadi Raja untuk wilayah Timur yang berpusat di Bkambangan. Di masa kepemimpinan dua raja inilah, Majapahit mulai mengalami kemunduran tajam karena perang saudara yang dikenal dengan Paregreg, yang diperkirakan terjadi pada tahun 1404-1406. Di sisi lain, sejak abad ke 15 M, agama Islam mulai menyebar di daerah pesisir pulau Jawa. Pengaruh Islam makin terasa di pedalaman hingga agama Hindu Budha semakin terdesak.

Pada tahun 1405-1407 M dalam rangka pelayaran pertamanya, Laksamana Cheng Ho memimpin sebuah armada perutusan ke Jawa, menyaksikan kedua raja tersebut saling berperang. Kerajaan sebelah Timur disebutkan mengalami kekalahan dan kerajaan dirusak. Berita Cina tersebut mengemukakan pula bahwa pada waktu terjadi perang antara kedua raja tersebut, perutusan Cina berada di kerajaan bagian Timur itu telah menyababkan pula ikut terbunuhnya 170 orang Cina.

Malaka berdiri sekitar tahun 1400 M, berkembang menjadi pusat perdagangan Asia Tenggara yang kaya raya. Raja-raja Malaka mengembangkan sayap kekuasaannya di Semenanjung Tanah Malaka, sementara gerak ekonomi Majapahit banyak bergantung dengan wilayah Malaka. Pada abad ke 15 M, Islampun menancapkan pengaruhnya di Melayu, yang terutama di Malaka.

Akhirnya istana, rumah, masjid, dan surau di Malaka pada abad ke 15 M memainkan peran aktif dalam mengembangkan peradaban Islam melalui saluran pendidikan dan dakwah yang didukung oleh para ulama manca negara baik dari Arab, Persia, Maroko, Mesir, Hadramaut, dan Gujarat. Para pelajarpun tidak hanya datang dari penduduk setempat, bahkan seluruh penjuru Nusantara terutama Jawa termasuk Sunan Giri an Sunan Bonang juga pernah belajar ke Malaka.

Raja pertama yang masuk Islam adalah Raja Malaka, Sultan Muhammad Syah. Sejak abad itu, para saudagar dari Hindustan, Cina, Hindia belakang, Jepang, dan Jawa Timur suka membawa perniagaan ke Malaka karena letak kotanya yang sangat baik untuk meneruskan ke tiap penjuru dunia. Musim tahun untuk pelayaran juga bagus terutama di bulan Desember hingga Maret. Mereka berhenti di sana menukarkan barangnya, membeli perbekalan dalam pelayaran dan menunggu saat berlayar yang baik.

Di antara para saudagar tersebut bertemu dengan orang dari Jawa Timur, terutama mereka yang datang dari Bandar Tuban dan Gresik. Mereka akrab dengan orang-orang Malaka yang baru masuk Islam, orang-orang Gujarat dan para pedagang asing yang lain. Orang-orang Jawa itu hampir semuanya masuk Islam dengan kesadaran mereka akibat tertarik dengan prilaku dan akhlak para saudagar dari Arab, Gujarat, dan Cina. Rekan-rekan mereka yang datang dari Jawa dan singgah di Malaka diajak pula masuk Islam. Sejak tahun 1400 M, bukan negeri Malaka saja yang memasukkan orang-orang Jawa ke dalam agama Islam. Para saudagar Persia dan Gujaratpun bersungguh-sungguh memasukkan Islam ke Pulau Jawa. Komoditas dagang mereka adalah kain-kain sutera yang mahal, kain beledru, manik-manik cambay dan barang-barang kecil yang lain.

Pada tahun 1404 M, datanglah Maulana Malik Ibrahim dan menetap di Tanah Jawa sebagai tokoh sentral penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Sejarawan G.J.W. Drewes menegaskan, Maulana Malik Ibrahim adalah tokoh yang pertama-tama dipandang sebagai wali di antara para wali. Dia terhitung salah seorang wali yang menyebarkan Islam pasca jatuhnya kerajaan Majapahit.

Tidak lama kemudian, Jawa berubah menjadi daerah komunitas Muslim yang subur. Karena orang asing Islam juga menikah dengan wanita Jawa yang sebelumnya diislamkan terlebih dahulu sebelum menikah. Dengan demikian, komunitas muslim terbentuk secara damai dan alami. Jumlah mereka bertambah banyak disebabkan oleh orang-orang Jawa yang masuk Islam di Malaka dan pulang ke negerinya, terutama ke Tuban, Gresik, dan Surabaya. Selain itu terdapat pula orang-orang Melayu, Arab, dan Gujarat yang menetap di Jawa. Orang-orang Gujarat dan Persia di Tanah Jawa dimuliakan orang karena mereka orang asing yang berbudi luhur.

H.J De Graaf dan T.H Pigeaud juga mengatakan bahwa umat Islam dalam pergaulan hidup masyarakat termasuk golongan menengah yang berdagang. Agama Islam memajukan sifat sama rata, sehingga menciptakan tata tertib dan keamanan sistem seraya menonjolkan kerukunan kaum muslim. Hukum pernikahan Islam, yang pada dasarnya tidak mengenal halangan berdasarkan perbedaan keturunan, ras, golongan, dan suku merupakan pembaruan besar dalam pergaulan hidup yang sebelumnya terpecah-belah.

 

Sumber : Abidin, Zainal, 2016. Fakta Baru Walisongo : Telaah Kritis Ajaran, Dakwah, dan Sejarah Walisongo. Pustaka Imam Bonjol : Jakarta.

Satu tanggapan untuk “Peradaban Islam di Indonesia : Awal Mula Masuknya Islam”

Tinggalkan Balasan

Recent Posts

Dibalik Kebaikan Donor Darah

  donor/do·nor/ n  1 penderma; pemberi sumbangan; 2 penderma darah (yang menyumbangkan darahnya untuk menolong orang lain yang memerlukan): — darah. Donor darah merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Darah yang telah didonorkan ini kemudian akan ditransfusikan kepada orang yang membutuhkan. Transfusi darah bertujuan untuk mengembalikan darah yang hilang misalnya saat operasi atau pada cedera parah. […]

Api yang Berbeda

Ya dia adalah Bilal, seseorang yang sontak membuat geger penyelenggaraan Ospek waktu itu. bagaimana tidak, dia satu-satunya maba yang berani menentang senior, karena sikap senior yang tidak bisa diterima. Di saat kami dimarah-marah oleh senior, kami hanya bisa diam dan menundukkan kepala, tetapi tidak dengan dia, dia berani mengatakan salah jika salah dan menunjukkan benar […]

Seluk Beluk Sel Darah dan Keunikan disetiap Komponennya

Oleh Muhammad Alfaridzi   إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) […]

Event SKI Asy-Syifa

no event