SKI Asy-Syifa

Islamic History

Peradaban Islam di Eropa : Peran Islam dalam Kebangkitan Andalusia

Peradaban Islam di Eropa : Peran Islam dalam Kebangkitan Andalusia

Setelah masa penaklukan berakhir, dimulailah masa baru dalam Ssejatah kisah Andalusia yang disebut sebagai Masa Al-Wulat (para gubernur), yang dimulai dari tahun 95 H (714 M) dan berlangsung selama 42 tahun yang berakhir pada tahun 138 H (755 M).
Masa Al- Wulat (para gubernur) ini bermakna bahwa pemerintahan Andalusia dipimpin oleh seseorang yang beraflliasi kepada penguasa umum kaum muslimin, yaitu Khalifah Umawiyah yang ada di Damaskus pada waktu itu. Gubernur pertama di Andalusia adalah Abdul Aziz bin Musa bin Nushair (97 H/7l6 M). Ia seperti ayahnya dalam hal jihad, ketakwaan dan kewara’annya. Ayahnya pernah mengatakan tentangnya, “Aku mengenalinya sebagai orang yang senang berpuasa dan melakukan qiyamullail.”
1. Penyebaran Islam di Negeri Andalusia
Setelah kaum muslimin berhasil mengokohkan pilar-pilar Daulah Islamiyah di negeri ini, mereka pun mulai mengajarkan Islam kepada masyarakat di sana. Karena Islam adalah agama fitrah, dengan cepat orang-orang yang mempunyai fitrah yang lurus menyambut dan menerimanya saat mengetahuinya. Mereka memilihnya tanpa ragu sedikit pun.
Spanyol telah menemukan bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan komprehensif mengatur seluruh urusan kehidupan manusia. Mereka menemukan sebuah akidah yang jelas dan ibadah yang teratur di dalamnya. Di dalamnya mereka juga menemukan sistem clan perundangan dalam bidang politik, hukum, perdagangan, pertanian dan muamalah. Di dalamnya mereka juga mendapati kerendahan hati para pemimpin penaklukan. Mereka juga menemukan bagaimana terjadinya interaksi bersama saudara, ayah, ibu, istri, anak’anak, tetangga, kerabat dan kawan. Di dalamnya mereka juga menemukan bagaimana terjadinya interaksi dengan lawan, tawanan, dan dengan semua manusia.
Sebelum itu, orang-orang Spanyol dalam kehidupan mereka telah terbiasa melakukan pemisahan yang utuh antara agama dan negara.
Agama bagi mereka tidak lebih dari sekadar pemahaman ideologis yang tidak dapat dipahami tapi mereka jalankan setiap hari, namun mereka tidak mampu mengaplikasikannya. Dalam hal perundang-undangan dan hukum, siapa yang memimpin mereka itulah yang mengatur mereka sesuai hawa nafsunya sendiri, sesuai dengan apa yang menjadi kepentingan pribadinya. Sementara di dalam Islam, mereka menemukan persoalannya sangat jauh berbeda. Sehingga mereka tidak lagi mampu melepaskan diri darinya dan bergabung di dalamnya, maka mereka pun masuk ke dalam Islam berduyun-duyun.
Dalam masa yang singkat, seluruh penduduk Andalusia (penduduk aslinya) pun memeluk Islam. Akibamya kaum muslimin dari kalangan bangsa Arab dan Amazig (Barbar) menjadi minoritas di antara mereka. Penduduk Andalusia pun menjadi bagian dari pasukan Islam dan pendukung agama ini. Merekalah yang kemudian bergerak melakukan berbagai penaklukan di negeri Perancis.
2. Tumbuhnya Generasi Peranakan Baru
Sebagai akibat terjadinya pemikahan dan interaksi para penakluk dengan penduduk asli, dan tersebarnya Islam secara cepat, lahirlah sebuah generasi baru yang dikenal sebagai “Generasi Peranakan Baru”. Mereka adalah anakvanak keturunan penduduk asli Andalusia yang masuk Islam, yang ayahnya berasal dari bangsa Arab atau Amazig (Barbar) dan ibunya berasal dari Andalusia.
3. Penghapusan “Kasta” dan Penyebaran Kebebasan Beragama
Kaum muslimin menghapuskan “kastanisasi” yang waktu itu terjadi di sana; karena Islam datang untuk menyamakan kedudukan seluruh umat manusia. Sampai-sampai seorang penguasa dan rakyat berdiri sama derajat di hadapan pengadilan saat menyelesaikan perkara- perkara di antara mereka. Pada masa ini, kaum muslimin bekerja untuk memberikan kemerdekaan beragama kepada rakyat. Mereka membiarkan kaum Kristen di gereja-gereja mereka dan tidak dihancurkan sama sekali. Mereka tidak mengubahnya menjadi masjid kecuali jika pihak Kristen setuju untuk menjualnya kepada kaum muslimin. Jika mereka menjualnya pun, kaum muslimin membelinya dengan harga yang tinggi. Namun jika mereka menolak menjualnya, kaum muslimin pun membiarkannya untuk mereka.
Hal-hal mengagumkan ini hanya terjadi pada saat kaum Kristen dipimpin oleh kaum muslimin. Kita harus memahami hal ini dengan baik, dan kita dapat membandingkan apa yang dilakukan kaum muslimin ini dengan apa yang dilakukan pihak Kristen setelah berakhirnya kekuasaan Islam di negeri Andalusia, dalam apa yang dikenal sebagai “MAHKAMAH TAFTISY SPANYOL.”
4. Perhatian terhadap Berdirinya Peradaban yang Berbentuk Bangunan Fisik
Kaum muslimin pada era ini juga memperhatikan tegaknya peradaban, membangun sistem administrasi, membangun gedung-gedung, dan mendirikan jembatan-jembatan penyeberangan. Salah satu bukti yang menunjukkan kecemerlangan mereka dalam bidang ini adalah jembatan menakjubkan yang bernarna Jembatan Cordova. Jembatan ini menjadi jembatan paling menakjubkan di Eropa pada waktu itu. Kaum muslimin juga mendirikan gudang-gudang persenjataan (arsenal) dan memproduksi kapal-kapal laut. Pasukan Islam pun mulai semakin kuat dan besar di kawasan ini.
5. Orang-orang Spanyol Mengikuti Kaum Muslimin
Salah satu karakteristik utama pada masa pertama dari Periode Al-Wulat ini adalah, orang-orang Spanyol mulai mengikuti gaya kaum muslimin dalam semua hal. Sebelum Islam masuk, bangsa Eropa hidup dalam masa-masa kebodohan dan keterbelakangan yang luar biasa. Mereka pun mulai mempelajari hahasa Arab yang digunakan oleh para pasukan penakluk. Bahkan kaum Kristen dam Yahudi sangat bangga mengajarkan bahasa Arab di sekolah-sekolah mereka.
6. Menjadikan Cordova Sebagai Ibukota
Demikian pula salah satu ciri khas periode ini, adalah kaum muslimin menjadikan Cordova sebagai ibukota untuk mereka. Pada mulanya, Toledo di utara merupakan ibukota Andalusia, namun kaum muslimin menemukan kota ini terlalu dekat ke Perancis dan terlalu dekat dengan Kota Ash-Shakhrah, dan kedua wilayah ini adalah sumber bahaya bagi mereka. Mereka pun memandang Toledo sebagai kota yang tidak aman. Karena itu, tidak mungkin kota ini menjadi ibukota. Itulah sebabnya, kaum muslimin memilih Kota Cordova sebagai ibukota yang terletak di bagian selatan, karena tidak adanya hal-hal yang mengkhawatirkan tadi, dan juga agar mereka lebih dekat dengan sumber-sumber bantuan kaum muslimin di negeri Maghribi.
7. Jihad di Perancis
Berjihad di Perancis adalah salah satu ciri khas periode Al-Wulat ini, sehingga periode ini berhasil melakukan berbagai langkahalangkah maju.

Subhanallah, semoga kisah singkat ini dapat menambah keimanan dan pengetahuan kita.
Sumber :
Ar-Sirjani, Raghib, 2015. Bangkit dan Runtuhnya Andalusia : Jejak Kejayaan Peradaban Islam di Spanyol

Tinggalkan Balasan

Recent Posts

Penyaluran Bantuan Gempa Lombok melalui FK Unram

Duka menyelimuti pulau Lombok. Pada akhir juli dan awal agustus, pulau seribu masjid ini diguncang gempa dengan kekuatan besar yaitu 6.4 SR dan 7.0 SR. Gempa susulan pun terjadi berulangkali setelah gempa utama tersebut. Beberapa rumah warga dan infrastruktur rusak, korban berjatuhan akibat tertimpa bangunan, keadaan memprihatinkan warga yang tinggal di pengungsian, dan keadaan lain […]

Webinar Bedah Buku “Islam, Sains, dan Kesehatan” karya dr. M. Saifudin Hakim dkk di FK Unram

Pernahkah kita membaca atau mendengar suatu hal yang dikaitkan dengan ajaran Islam dan sains? Banyak yang berdecak kagum ketika hal yang berlabel “islami” dapat dihubungkan dengan sains walaupun itu hanya opini. Doktor dokter Saifudin Hakim dkk menulis sebuah buku yang sangat informatif dan edukatif baik untuk kalangan akademisi maupun masyarakat umum. Buku ini khususnya membahas […]

Air Zamzam dengan Segudang Manfaat Didalamnya

Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Air zamzam  mendatangkan khasiat dengan niat untuk apa air itu diminum”. (HR. Ibnu Majah) Ibnu Abbas radhiallahu anhu menambahkan dalam riwayatnya, “Air zamzam memenuhi tujuan untuk apa ia diminum; jika engkau meminumnya dengan niatan untuk menyembuhkan penyakitmu, Allah akan menyembuhkan penyakitmu dan jika […]

Event SKI Asy-Syifa

no event