SKI Asy-Syifa

Opinions

Nikah Muda, Yes or No?

Nikah Muda, Yes or No?

Apa itu menikah ?

Istilah menikah dalam Islam adalah suatu ikatan lahir dan batin antara seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram sebagai suami istri dengan tujuan membina suatu rumah tangga yang berpedoman pada Al-qur’an dan As-Sunnah.

Secara umum Islam sudah mengatur tentang munakaha atau menikah. Tidak ada perbedaan khusus bagi yg menikah di usia muda atau tua, karena dalam Islam pembedanya hanya satu, yaitu baligh/tidak. Jadi, dalam Islam jika belum baligh dipandang anak-anak, tidak ada taklif hukum atasnya baik laki-laki/perempuan, sedangkan jika sudah baligh dianggap dewasa/matang secara akal/dibebani taklif hukum.

Hal yang membuat permasalahan menikah muda saat ini ialah pengklasifikasian individu berdasarkan standar usia yang dibuat-buat manusia (bahkan terdapat ada beberapa standar yang berbeda-beda). Selain itu, mayoritas penilaiannya juga berdasarkan aspek ilmu psikologi, sosiologi, dan kesehatan masyarakat. Sehingga muncullah istilah “nikah muda” bagi yg dianggap muda berdasar kelompok umur tersebut.

 

Batas usia dikatakan nikah muda

Bab II pasal 7 ayat satu menyebutkan bahwa  pernikahan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun. Usia Pernikahan Dalam Bab IV Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 15 juga menyebutkan bahwa demi untuk kemaslahatan keluarga dan rumah tangga pernikahan hanya boleh dilakukan calon mempelai jika telah  mencapai umur yang ditetapkan dalam pasal 7 Undang-undang  No. 1 tahun 1974 yakni calon suami sekurang-kurangnya berumur 19 tahun dan calon istri sekurang-kurangnya berumur 16 tahun.

Di Indonesia, sebuah pernikahan harus mendapat legalitas dari pengadilan (seperti kasus anak dari ust Arifin Ilham lalu). Suatu hal yang perlu dicatat adalah hukum yang dibuat manusia, dengan segala pertimbangan resiko & manfaat lainnya yang bisa benar/salah. Dalam Islam tidak ada pembagian seperti itu. Nikah bisa jadi hukumnya mubah, sunnah, atau wajib tergantung kondisi seorang individu, terutama dilihat dari kesiapan, bukan umur.

Sedangkan dalam syariat Islam, kebolehan menikah itu tidak mengenal umur. Aisyah ra. dinikahi Rasul saat ia berusia 6 tahun. Bukan karena Rasul pedofil sepertit tuduhan musuh Islam, tetapi karena Syariat memang tidak mengatur batasan usia kapan seseorang boleh menikah, wallahua’lam.

 

Hal-hal yang harus diperhatikan saat nikah muda

 

 “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin niscaya Allah akan memampukan mereka (menjadikan mereka kaya) dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur : 32)

Menikah tentunya tidak hanya bersatunya kedua mempelai saja, tetapi keluarga kedua mempelai juga mempunyai peran penting. Ketika berencana untuk menikah di usia muda hal yang harus diperhatikan adalah:

  • Psikis

Seseorang di usia remaja khususnya kondisi mental masih belum stabil terlebih lagi banyak pengaruh dari lingkungan pergaulan yang masih berpengaruh besar. Kesiapan mental harus dipersiapkan sedini mungkin, agar kelak saat sudah berumah tangga segala permasalahan rumah tangga dapat diselesaikan dengan cara dewasa. Tidak asal main kasar misalnya ataupun langsung cerai, na’udzubillah.

  • Fisik

Dalam pandangan dunia kesehatan, baik laki-laki dan perempuan harus memiliki kesehatan fisik yang baik, agar kelak dapat memperoleh keturunan yang baik pula.

  • Ilmu

Ilmu yang sangat penting adalah  ilmu agama, karena jika ilmu agama goyah atau tidak paham makna pernikahan adalah sebagai ibadah maka bisa jadi pernikahannya tersebut tidak memperoleh kebahagiaan yang hakiki. Misalnya dalam hal ekonomi, jika pasangan yang paham agama dengan baik bahwa rezeki itu datangnya dari Allah maka pasangan tersebut kelak tidak akan saling menyalahkan jika terkena krisis ekonomi.

  • Ilmu dunia

Ilmu dunia juga sangatlah penting, apalagi untuk calon ibu, seperti sya’ir arab Al Ummu Madrasatul Ula, bahwa Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya kelak. Jadi jika seseorang berniat ingin menikah, maka perbanyaklah menuntut ilmu agama dan ilmu dunia agar menjadi bekal rumah tangganya kelak.

Persiapan menikah sangatlah  penting, karena sangat erat kaitannya dengan perjalanan rumah tangga yang akan dijalani. Tidak peduli berapapun usia seseorang saat menikah, persiapan dan kesiapan ini yang akan menentukan kisah dan endingnya. Tidak jarang seseorang menikah saat usianya sudah “matang” tapi ternyata rumah tangga kacau balau atau berujung cerai. Tapi ternyata ada yg usianya muda, Rumah Tangga sederhana saja, bisa mendidik buah hati dengan sebaik-baiknya.

 

Salah satu kunci pernikahan adalah persiapan yang matang.

Persiapan ini pertama sekali ditentukan oleh konsep dan konten pendidikan yang diberikan orang tua kepada anaknya. Ketika sejak kecil sudah diberikan pemahaman mengenai posisinya sebagai makhluk dan adanya Al Khaliq yang menurunkan syariat untuk ditaati (tauhid & aqidah aqliyah), maka proses penempaan dan persiapan selanjutnya akan lebih mudah. Hal tersebut dikarenakan si anak akan sadar dengan sendirinya perihal peran-peran yang akan dijalaninya di masa depan; anak perempuan sadar dia akan jadi seorang istri dan seorang ibu; anak laki-laki sadar dia akan jadi seorang suami dan seorang ayah ( masing-masing ada peranan tertentu, hak serta kewajiban masing-masing).

Jika sudah mantap di tahap pendidikan usia dini dan pra baligh (teori parenting Islami), maka jika sudah baligh bisa melangsungkan pernikahan.  Jika memiliki anak perempuan, didiklah dia supaya ketika baligh dia sudah siap jadi istri bahkan ibu (baik dari mafhum syara’ & ilmu praktis Rumah Tangga).

Begitu juga bagi anak laki-laki, harus dipahamkan jauh-jauh hari tentang perannya sebagai qowwaam, pencari nafkah, dan lain-lain. Sehingga ketika mereka masih dalam proses pencarian/penantian, mereka akan dengan sendirinya menambah tsaqofah/skill yang dibutuhkan untuk mewujudkan semua hal-hal itu. Jadilah ketika dia menikah, dia benar-benar siap dan tangguh menjalani semua tantangan pernikahan (tidak peduli berapapun umurnya saat itu).

 

Nikah muda lebih banyak baik atau buruknya?

Pertanyaan mengenai baik atau buruk nikah muda tergantung dari masing-masing orang, jika seseorang sudah memiliki pemahaman agama yang baik, memiliki ilmu yang baik, sudah bisa berpikir dewasa dan bertanggung jawab maka pernikahannya tersebut pasti berjalan juga dengan baik,  walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa setiap rumah tangga pasti memiliki masalahnya masing-masing, tapi setiap masalah pasti memiliki solusinya. Allah SWT tidak akan menguji di luar kemmampuan hambanya. Jadi, kembali kepada pribadi seseorang itu sendiri.

Tetapi, di era akhir zaman saat ini di mana budaya barat telah masuk ke Indonesia yang juga ikut terbawa arus dengan pergaulan yang bebas. Banyak dari kalangan remaja-remaja bahkan anak-anak SD pun sudah mengenal yang namanya “pacaran”,  kita semua tahu bahwa dalam islam jangankan melakukan zinah, mendekatinya saja tidak diperbolehkan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra’ ayat 32 yang berbunyi:

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk“.

 

Jika dilihat dari larangan Allah tersebut dan dilihat dari kondisi akhir zaman seperti ini, alangkah baiknya jika langsung saja menikah jika sudah mampu dan tidak bisa menahan hawa nafsunya. Jika masih belum siap dalam banyak hal, misalnya belum diizinkan oran tua karena masih sekolah/kuliah, maka Rasulullash SAW bersabda:  “Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya” (HR. Bukhari-Muslim)

 

Nikah Muda dalam Pandangan dunia kesehatan dan kejiwaan

Kesehatan berkaitan dengan penelitian-penelitian yang valid, hal tersebut ada kaitannya ke paparan dini hpv karena hubungan suami istri, resiko hamil di usia muda karena organ reproduksi masih belum matang secara sempurna, dan lain sebagainya.

Tapi, berkaitan kembali mengenai studi & hitung-hitungan manusia, di mana faktor biasanya pun ada. Jadi tidak bisa dijadikan patokan untuk berbuat (memilih menikah di usia <16 atau >16). Faktanya bahwa ada yang menikah di usia lebih muda dari itu, tapi kesehatannya baik-baik saja.

Kita memang tidak bisa menyepelekan hasil studi, sesuatu yang ilmiah harus tetap dipercayai, tapi ini bukanlah standar bersikap yang seharusnya. Seorang muslim harus teguh memegang syara’ sebagai landasan dalam memilih tiap langkah, termasuk menikah.

Dalam teori psikologi yang selama ini kita pelajari yaitu faktor internal dan external yang akan berpengaruh. Hal tersebut bergantung pada kekuatan dari sugesti positif dari dalam atau pengaruh negatif stressor. Selain itu, ditambah kausa-kausa neurotransmitter dan organik lainnya.

Sedangkan bila dalam Islam, sejatinya seseorang yang sudah terbina syakhshiyahnya dengan Islam in syaa Allah tidak akan mengalami gangguan kejiwaan semudah yang terjadi saat-saat ini. Karena kemampuan dia senantiasa menghadirkan Allah dalam setiap fase kehidupannya, saat di atas/di bawah; ditambah sikap ridho terhadap qodho Allah, qonaah, zuhud (dan berbagai adab dan akhlaq yang diperintahkan asy-syari’) maka kemungkinan stress/depresi makin kecil.

Penulis :  Fitri ramanda dan dr. Arenta Mantasari

Tinggalkan Balasan

Recent Posts

Air Zamzam dengan Segudang Manfaat Didalamnya

Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Air zamzam  mendatangkan khasiat dengan niat untuk apa air itu diminum”. (HR. Ibnu Majah) Ibnu Abbas radhiallahu anhu menambahkan dalam riwayatnya, “Air zamzam memenuhi tujuan untuk apa ia diminum; jika engkau meminumnya dengan niatan untuk menyembuhkan penyakitmu, Allah akan menyembuhkan penyakitmu dan jika […]

Dibalik Kebaikan Donor Darah

  donor/do·nor/ n  1 penderma; pemberi sumbangan; 2 penderma darah (yang menyumbangkan darahnya untuk menolong orang lain yang memerlukan): — darah. Donor darah merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Darah yang telah didonorkan ini kemudian akan ditransfusikan kepada orang yang membutuhkan. Transfusi darah bertujuan untuk mengembalikan darah yang hilang misalnya saat operasi atau pada cedera parah. […]

Api yang Berbeda

Ya dia adalah Bilal, seseorang yang sontak membuat geger penyelenggaraan Ospek waktu itu. bagaimana tidak, dia satu-satunya maba yang berani menentang senior, karena sikap senior yang tidak bisa diterima. Di saat kami dimarah-marah oleh senior, kami hanya bisa diam dan menundukkan kepala, tetapi tidak dengan dia, dia berani mengatakan salah jika salah dan menunjukkan benar […]

Event SKI Asy-Syifa

no event