SKI Asy-Syifa

Health

Menyikapi Pro-Kontra Imunisasi dan Vaksinasi

Menyikapi Pro-Kontra Imunisasi dan Vaksinasi

 

Beberapa minggu yang lalu, penyakit difteri kembali mewabah. Padahal sebenarnya penyebaran penyakit ini dapat dicegah melalui imunisasi. Sayangnya, masyarakat kita masih banyak yang kurang menyadari pentingnya imunisasi untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan kekebalan komunitas. Banyaknya isu yang beredar mengenai vaksin serta kecenderungan untuk langsung memercayai berita miring sebelum mencari dan mendalami fakta, menyebabkan banyak orang enggan diimunisasi dan divaksinasi. Ditambah lagi beredar yang mengatakan bahwa vaksin mengandung babi dan gerakan vaksinasi merupakan konspirasi Yahudi dan negara – negara barat. Namun, banyak juga yang masih sadar dan paham pentingnya imunisasi hingga akhirnya memunculkan pro dan kontra terhadap imunisasi.

Sebagai seorang muslim, bagaimana sikap kita dalam menghadapi permasalahan tersebut?

Sebelum kita membahas mengenai ini, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu pengertian dan perbedaan antara imunisasi dan vaksinasi.

  • Imunisasi adalah pemindahan atau transfer antibodi secara pasif. Antibodi diperoleh dari komponen plasma donor yang sudah sembuh dari penyakit tertentu.
  • Vaksinasi adalah pemberian vaksin (antigen dari virus atau bakteri yang dapat merangsang imunitas (antibodi) dari sistem imun di dalam tubuh. Semacam memberi “infeksi ringan”. (Pedoman Imunisasi di Indonesia cetakan ke-3 2008, penerbit Depkes)

Pendapat mengenai pro-kontra imunisasi

Pendapat kontra :

  1. Vaksin dianggap haram karena menggunakan bahan – bahan yang berasal salah satunya dari babi.
  2. Memiliki efek samping yang membahayakan karena mengandung zat berbahaya seperti merkuri, thimerosal, aluminium, benzetonium klorida, dan zat – zat kimia lainnya yg akan memicu autisme, cacat otak, dan lain-lain.
  3. Lebih banyak bahaya dan efek samping daripada manfaatnya.
  4. Kekebalan tubuh seseorang secara alami sudah ada, tinggal bagaimana cara menjaganya dengan perilaku hidup sehat.
  5. Konspirasi Yahudi dan negara – negara barat untuk menghancurkan negara – negara berkembang dan Islam dengan cara menghancurkan generasi muda mereka.
  6. Adanya laporan yang mengatakan bahwa anak yang tidak diimunisasi masih tetap sehat dan justru lebih sehat dari anak yang diimunisasi.

Pendapat pro :

  1. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Banyak kasus ibu hamil membawa virus Toksoplasma, Rubella, Hepatitis B yang dapat membahayakan ibu dan janin.
  2. Vaksinasi penting dilakukan untuk mencegah penyakit infeksi berkembang menjadi wabah seperti kolera, difteri, dan polio.
  3. Walaupun kekebalan tubuh bawaan telah ada, kita hidup di negara berkembang yang standar kesehatan lingkungannya masih rendah sehingga perlu memperkuat kekebalan tubuh dengan imunisasi.
  4. Efek samping yang membahayakan bisa diminimalisir dengan tanggap terhadap kondisi ketika hendak imunisasi dan lebih banyak mencari tahu jenis merk vaksin serta jadwal yang benar sesuai kondisi setiap orang.
  5. Jangan langsung percaya isu-isu yang tidak jelas dan tidak ilmiah, seperti pada isu vaksinasi MMR dapat menyebabkan autis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab autis adalah multifaktor dan penyebab utamanya masih harus diteliti.
  6. Beberapa fatwa menyatakan imunisasi halal dan dibolehkan. Terdapat pula sanggahan bahwa vaksin halal karena hanya sebagai katalisator dan bukan bagian dari vaksin. Jika terbukti benar haram, maka penggunannya tetap dibolehkan karena keadaan darurat dan mencegah penyakit infeksi mewabah.

Tidak hanya di Indonesia, pro-kontra terhadap imunisasi dan vaksinasi ternyata juga terjadi di negara – negara barat dan non-Islam, seperti Filipina dan Australia. Pro-kontra ini telah ada sejak Louis Pasteur memperkenalkan vaksinasi rabies sampai keputusan imunisasi demam tifoid selama masa perang Boer. Di Inggris pertentangan mengenai imunisasi cacar sampai dibawa ke parlemen Inggris. Begitu juga para ibu di Inggris dan Jepang yang menolak imunisasi DPT karena mengakibatkan demam pada anaknya setelah dilakukan imunisasi tersebut.

Setelah dilakukan imunisasi, biasanya bayi atau balita mengalami demam, kemerahan, bengkak, dan gatal pada area bekas suntikan. Hal tersebut merupakan reaksi yang wajar setelah vaksin masuk ke dalam tubuh karena tubuh menganggap vaksin sebagai benda asing dan sistem imun langsung berespon. Efek samping imunisasi dalam dunia kesehatan dikenal dengan istilah KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) dan umumnya akan hilang dalam beberapa hari. Apabila demam, boleh diberikan obat penurun panas seperti parasetamol dan dikompres dengan air hangat. Bisa juga dikonsultasikan ke petugas kesehatan terdekat.

Apakah vaksin itu haram?

Tidak segelintir orang mempertanyakan keharaman vaksin, apalagi mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Agama Islam bukan agama yang kaku dan Allah tidak menghendaki kesulitan kepada hamba-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al-Hajj : 78)

Sebagai seorang muslim, semua jalan keluar telah diberikan oleh agama Islam. Oleh karena itu kita berupaya kembali kepada Allah dan rasul-Nya.

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ

 “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya),” (QS. An-Nisa : 59)

Kita tidak dapat mengatakan bahwa vaksin haram, minimal kita umpamakan seperti binatang jallalah, yaitu binatang yang biasa memakan benda – benda najis. Karena binatang tersebut telah bercampur dengan benda najis yang dimakannya, maka perlu dikarantina kemudian diberi makan makanan yang suci dalam beberapa hari agar halal dikonsumsi. Sebagian ulama berpendapat minimal tiga hari dan ada juga yang berpendapat sampai aroma, rasa, dan warna najisnya hilang. Imam Abdurrazaq As-Shan’ani rahimahullah meriwayatkan,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ يَحْبِسُ الدَّجَاجَةَ ثَلَاثَةً إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ بَيْضَهَا

“Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya beliau mengurung (mengkarantina) ayam yang biasa makan barang najis selama tiga hari jika beliau ingin memakan telurnya.” (Mushannaf Abdurrazaq no. 8717)

Jika diumpamakan demikian, benda najis yang hanya digunakan sebagai katalisator vaksin dan tidak dimakan, maka vaksin layak untuk digunakan.

Direktur perencanaan dan pengembangan PT. BioFarma, Drs. Iskandar, Apt, M,M menyatakan bahwa enzim tripsin babi hanya berfungsi sebagai katalisator dalam proses pembuatan vaksin. Tripsin babi hanya dipakai sebagai enzim proteolitik enzim yang digunakan sebagai katalisator pemisah sel atau protein. Hasil akhirnya, enzim tripsin yang merupakan unsur turunan dari pankreas babi tidak terdeteksi lagi. Enzim ini akan mengalami proses pencucian, pemurnian dan penyaringan, sehingga hasil akhirnya tidak ditemukan lagi sedikitpun dari serum babi.

Banyak diantara kita yang belum mengetahui istilah istihalah. Istihalah adalah perubahan benda najis atau haram menjadi benda yang suci yang telah berubah sifat dan namanya. Dapat dicontohkan dengan kulit bangkai yang najis dan haram disamak, maka bisa menjadi suci. Bisa juga dicontohkan jika khamr menjadi cuka misalnya dengan proses penyulingan maka dapat menjadi suci. Enzim babi pada vaksin tersebut telah berubah nama dan sifatnya serta hanya digunakan sebagai katalisator pemisah, sehingga yang menjadi patokan adalah sifat benda tersebut sekarang.

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan masalah istihalah, “Dan Allah Ta’ala mengeluarkan benda yang suci dari benda yang najis dan mengeluarkan benda yang najis dari benda yang suci. Patokan bukan pada benda asalnya, tetapi pada sifatnya yang terkandung pada benda tersebut (saat itu). Dan tidak boleh menetapkan hukum najis jika telah hilang sifat dan berganti namanya.” [I’lamul muwaqqin ‘an rabbil ‘alamin 1/298, Darul Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, Cetakan pertama, 1411 H, Asy-Syamilah]

Hukum berobat dengan yang haram

Jika kita masih meyakini bahwa vaksin itu haram, mari kita mengkaji lebih lanjut mengenai ini. Dalam kaidah fiqhiyah terdapat pernyataan bahwa darurat itu membolehkan sesuatu yang dilarang. Hal ini dengan syarat :

  1. Tidak ada pengganti lainnya yang mubah.
  2. Digunakan sekadar mencukupi saja untuk memenuhi kebutuhan.

Kaidah ini dijadikan landasan bagi MUI untuk menyatakan bahwa vaksin boleh digunakan dan memenuhi 2 syarat di atas.

  1. Saat itu belum ada pengganti vaksin lainnya

Jika ada yang mengatakan bahwa vaksin dapat diganti dengan jamu, habbatussauda, madu atau obat – obat yang bersifat tradisional lainnya, itu merupakan pengobatan umum dan tidak secara spesifik. Jika kita mengobati virus tertentu, maka secara teori bisa sembuh dengan meningkatkan daya tahan tubuh, akan tetapi bisa sangat lama dan banyak faktor. Bisa saja seseorang tersebut mati sebelum daya tahan tubuh meningkat. Apalagi untuk jamaah haji, syarat sebelum mengikuti haji adalah divaksinasi.

  1. Enzim babi pada vaksin hanya sebagai katalisator, sekedar penggunaannya saja

Jika ada yang berdalil dengan hadist, ”Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya. Maka berobatlah, dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram.” (HR. Thabrani. Dinilai hasan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 1633). Dalil tersebut bisa diberikan pengecualian jika dalam kondisi darurat, dengan syarat :

  1. Penyakit tersebut adalah penyakit yang harus diobati.
  1. Benar-benar yakin bahwa obat ini sangat bermanfaat pada penyakit tersebut.
  2. Tidak ada pengganti lainnya yang mubah.

Kita kembali berlandaskan pada kaidah fiqhiyah, jika ada dua mudharat (bahaya) saling berhadapan maka diambil yang paling ringan.

Syaikh  Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan,

La ba’sa (tidak masalah) berobat dengan cara seperti itu jika dikhawatirkan tertimpa penyakit karena adanya wabah atau sebab-sebab lainnya. Dan tidak masalah menggunakan obat untuk menolak atau menghindari wabah yang dikhawatirkan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih (yang artinya),“Barangsiapa makan tujuh butir kurma Madinah pada pagi hari, ia tidak akan terkena pengaruh buruk sihir atau racun.”

Demikian juga jika dikhawatirkan timbulnya suatu penyakit dan dilakukan immunisasi untuk melawan penyakit yang muncul di suatu tempat atau di mana saja, maka tidak masalah karena hal itu termasuk tindakan pencegahan.

 

Penulis : Larasita Prameswari

 

Sumber : muslimafiyah.com

Tinggalkan Balasan

Recent Posts

Kegiatan Kesmas Al-Wafi 2018

Transfusi darah adalah kegiatan dalam membantu penyembuhan manusia ketika kadar darah dalam tubuh dibawah yang seharusnya. Menyumbangkan darah kepada orang lain yang amat membutuhkannya menurut kesepakatan para ahli fikih termasuk dalam kerangka tujuan syariat Islam, yaitu menghindarkan salah satu bentuk kemudaratan yang akan menimpa diri seseorang. Meskipun pada hakikatnya darah yang dikeluarkan dari tubuh manusia […]

7 Cara Menenangkan Hati

Selama manusia hidup, kesenangan dan kesedihan selalu bergantian mengisi hari-hari. Permasalahan yang terus-menerus datang, baik itu ringan maupun berat, akan memberikan dampak pada hati seseorang. Ketika dihadapkan dengan masalah, manusia sering menghindarinya. Namun, dengan menghindari masalah yang dimiliki, hati akan merasa tidak tenang. Dalam Islam, kita diajarkan cara untuk membuat hati menjadi tenang dan selalu […]

Tutur Kata yang Baik

Saudaraku.. Mungkin dari kita sering atau suka menggunakan kata-kata yang tidak baik. Kata dusta. Kata hinaan. Serta ujaran kebencian. Kata-kata tersebut diucapkan baik saat bercanda, atau sedang serius, marah, dan sebagainya. Ada pula yang mengatakannya demi memuaskan diri saja. Atau ingin menjatuhkan suatu tokoh yang terkenal. Wahai saudaraku, apakah baik sikap muslim seperti itu ? […]

Event SKI Asy-Syifa

no event