SKI Asy-Syifa

Figure

Kisah Seorang Buya Hamka

Kisah Seorang Buya Hamka

Bernama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah, namun lebih familiar disapa Buya Hamka atau Hamka. Lahir 17 Februari 1908 di daerah Sungai Batang, Tanjung Raya, Agam, Sumatera Barat (meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981). Mungkin hanya sedikit dari kita yang mengetahui kisah hidup beliau, maka izinkan tulisan ini untuk menyampaikan sedikit kisah hidup beliau yang patut diketahui.

Ir. Soekarno (Bung Karno), Drs. Mohamad Hatta (Bung Hatta), dan Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Buya HAMKA) adalah tiga sosok yang memiliki peran penting dalam kemerdekaan Indonesia, mereka tidak akan lepas dari sejarah perjuangan bangsa merebut kemerdekaan RI dari tangan penjajah. Mereka adalah pejuang bangsa, pendiri negara (founding father), Bapak-bapak bangsa, dan sekaligus juga adalah pahlawan bangsa. Mereka adalah sosok yang penuh dedikasi berpikir dan berbuat tanpa pamrih untuk bangsa dan negara.

Awal kisah ini bermula dari hubungan Hamka dengan Soekarno dan pandangan mereka yang berbeda terhadap politik, Hamka dengan pandangan Islamisnya dan Soekarno dengan pandangan Sekularisnya. Puncak kekuasaan yang kala itu dipegang oleh Soekarno mendapat “protes” dari seorang Hamka. Soekarno berencana untuk memaksakan penerapan sistem demokrasi terpimpin. Kemudian di Gedung Konstituante tahun 1959, ketika memajukan Islam sebagai dasar Negara Indonesia dalam sidang perumusan dasar Negara, Hamka menyerukan, “..Trias Politica sudah kabur di Indonesia….Demokrasi terpimpin adalah totaliterisme…Front Nasional adalah partai Negara…”

Tak lama setelah itu, Konstituante dibubarkan oleh Soekarno. Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), partai tempat bernaung Buya Hamka pun dibubarkan paksa. Para pimpinannya ditangkap, dijebloskan ke balik jeruji. Sedang, Hamka kemudian ditahan selama 2 tahun 4 bulan atas tudingan melanggar Undang-undang Antisubversif Pempres Nomor 11 yaitu merencanakan pembunuhan kepada presiden. Tapi ketahuilah, meski raganya terpenjara, namun pikiran Buya Hamka tetap merdeka. Buya HAMKA mengisi waktu selama di penjara dengan menyelesaikan tafsir Al Qur’an. Kemudian singkat cerita, pada tahun 1964, menjelang runtuhnya rezim Orde Lama, Buya Hamka dibebaskan.

Ketika kembali menghirup udara segar di luar jeruji besi, Hamka mulai mencari di mana Soekarno, sahabatnya. Meskipun karena Soekarnolah ia harus mendekam di tahanan, namun tidak ada sedikitpun dendam Hamka untuk Soekarno. Ia tak pernah merasa bahwa Soekarno telah berbuat jahat kepadanya, bahkan bila Soekarno harus meminta maaf kepadanya, ia sudah jauh-jauh hari memaafkan Soekarno.

Namun, Soekarno tak kunjung menampakkan diri di hadapannya. Ada rasa rindu yang ia simpan sendiri. Sampai suatu ketika datang “pesan terakhir” melalui Ajudan Soeharto, pada tanggal 16 Juni 1970, yang ditujuakan untuk Hamka, berbunyi, “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.” Pesan tersebut dititipkan oleh Soekarno yang saat itu sudah kembali kepada Sang Khalik.

Hamka terus berkaca-kaca membaca pesan tersebut, mengingat bagaimana persahabatannya dengan Soekarno, dan juga mengingat rindunya yang tak sempat terbalas. Namun, ia mencoba untuk tetap tegar. Ketika jasad Soekarno terbujur di hadapannya, ia mengecup Sang Proklamator, dan memohon ampun atas dosa-dosa yang telah diperbuat oleh Soekarno semasa hidupnya. Kemudian, ia memimpin shalat jenazah sesuai permintaan terakhir Soekarno.

“…Saya tidak pernah dendam kepada orang yang pernah menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu anugerah dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al Quran 30 Juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu.”

Demikian kisah dari seorang Hamka, betapa ia sungguh berjiwa besar, tak ada dendam sedikitpun melainkan rasa syukur atas lika-liku kehidupannya. Sebuah contoh tauladan yang baik untuk kita tiru. Selain Tafsir Al-Azhar yang dikerjakannya dari renungan di bilik terali besi pada era Orde Lama. Hamka juga  dikenal lewat karya-karyanya yang menggugah. Tenggelamnya Kapal van der Wijck, Di Bawah Lindungan Kabah, dan Tafsir Al-Azhar adalah sederet karya monumentalnya. Karya itu identik berkisah percintaan yang mendayu-dayu.

Semoga Buya Hamka, Soekarno, dan seluruh Pahlawan Bangsa diampuni segala dosa-dosanya dan semoga tenang di sisi-Nya. Aamiin.

Referensi :

http://sangpencerah.id/2014/04/kisah-buya-hamka-dan-presiden-soekarno.html

http://m.republika.co.id/berita/senggang/review-senggang/14/02/10/n0rngw-menengok-kisah-hidup-buya-hamka

Tinggalkan Balasan

Recent Posts

Bagian 2 : Keistimewaan Masjid Al-Aqsa

Mungkin ada orang yang bertanya-tanya, mengapa banyak netizen mengganti foto profil sosial media dengan bendera Palestina? Mengapa para mahasiswa rela melakukan aksi kemanusiaan Al-Aqsa di terik matahari? Mengapa banyak yang rela merogoh uang untuk donasi masyarakat di Al-Aqsa ?Mengapa mereka rata-rata menggunakan syal bercirikan khas bendera palestina? Lalu, muncul sederet nasyid Al-Aqsa memanggil. Bahkan, yang […]

Bangkai Kambing yang Cacat

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhu, beliau bercerita bahwa suatu ketika Rasulullah  ﷺ  melewati pasar melalui sebagian jalan dari arah pemukiman, sementara orang-orang [para sahabat] menyertai beliau. Lalu beliau melewati bangkai seekor kambing yang telinganya cacat (berukuran kecil). Beliau pun mengambil kambing itu seraya memegang telinga nya. Kemudian beliau berkata, “Siapakah di antara kalian yang […]

Memanah itu Sunnah

Pembaca setia web SKI FK Unram. Olahraga apa yang kalian sukai? Bermain bola? Jogging? berenang? berkuda? Bermain bulu tangkis? bela diri seperti karate, silat, atau olahraga lainnya?. Nah, dalam islam yang mulia, semua hal detail diatur, apalagi masalah olahraga (riyadhah). Karena, salah satu ciri umat islam sejati adalah kuat fisiknya, sehingga ia bisa beribadah secara […]

Event SKI Asy-Syifa

no event