SKI Asy-Syifa

Figure

Keikhlasan Syafruddin Prawiranegara, Presiden Darurat Republik Indonesia

Keikhlasan Syafruddin Prawiranegara, Presiden Darurat Republik Indonesia

Kemerdekaan Indonesia tidak diraih hanya dengan duduk manis dan melipat tangan saja. Ada banyak perjuangan yang melatarbelakangi kebebasan Indonesia dari para penjajah. Hal tersebut tidak terlepas dari perjuangan para tokoh bangsa dan seluruh warga Indonesia yang rela mengorbankan darah, keringat, dan air mata untuk Negara kita yang tercinta ini, Indonesia.

Setelah Kemerdekaan diraih, maka yang menjadi sorotan ialah siapa saja yang kemudian memimpin Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa ketika kita dihadapkan pada pertanyaan “Siapa saja yang pernah menjabat sebagai Presiden di Indonesia?” Jawaban yang akan terdengar ialah Ir. H. Soekarno, Jend. Besar TNI Purn. H. M. Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid (Gusdur), Dyah Permata Megawati Setyawati  Soekarnoputri (Megawati), Susilo Bambang Yudhoyono, dan saat ini Joko Widodo.

Tidak ada yang salah dengan jawaban ini, namun ada hal yang bisa dikatakan sebagai suatu yang terlupakan. Mungkin tidak banyak yang mengenal sosok Syafruddin Prawiranegara, salah satu pejuang pada masa Kemerdekaan Indonesia. Siapakah beliau? Apa saja jasa beliau bagi kemerdekaan Indonesia?

Perlu diketahui bahwa selain ketujuh nama Presiden tersebut, terdapat sosok yang faktanya juga pernah menjadi “Presiden” di Indonesia. Yups, beliau adalah  Syafruddin Prawiranegara. Syafruddin berdarah campuran Banten dan Minang, di mana saat kecil ia dipanggil “Kuding”.  Buyutnya, Sutan Alam Intan, masih keturunan Raja Pagaruyung di Sumatera Barat, yang dibuang ke Banten karena terlibat Perang Padri. Pria yang lahir di Banten, 28 Februari 1911 ini pernah menjabat sebagai Presiden/Ketua PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) ketika pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda saat Agresi Militer Belanda II 19 Desember 1948.

“Kami, Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 djam 6 pagi Belanda telah mulai serangannja atas Ibu-Kota Jogyakarta. Djika dalam keadaan Pemerintah tidak dapat mendjalankan kewadjibannja lagi, kami menguasakan kepada Mr Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra”, pesan Soekarno-Hatta melalui telegram ketika Belanda melakukan Agresi Militer II tersebut.

Namun, telegram tersebut tidak sampai ke Bukittinggi karena sulitnya sistem komunikasi. Meskipun demikian, Syafruddin Prawiranegara ternyata memiliki inisiatif yang sama seperti isi telegram tersebut. Sehingga dalam rapat di sebuah rumah dekat Ngarai Sianok, Bukittinggi, 19 Desember 1948, ia mengusulkan pembentukan suatu pemerintah darurat (emergency government). Gubernur Sumatra Mr TM Hasan menyetujui usul itu “demi menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang berada dalam bahaya, artinya kekosongan kepala pemerintahan, yang menjadi syarat internasional untuk diakui sebagai negara”. Hal itu menjadikan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dijuluki “penyelamat Republik”.

Setelah 8 bulan menjabat sebagai Presiden (istilah yang digunakan pada saat itu adalah ketua, namun kedudukannya sama dengan Presiden), Syafruddin menyerahkan mandatnya kepada Soekarno pada tanggal 13 Juli 1949. Sehingga berakhirlah Pemerintah Darurat Republik Indonesia. Setelah penyerahan mandat tersebut, Syafruddin tetap terlibat dalam pemerintahan dan menjabat sebagai menteri keuangan.

Hal menarik yang perlu digarisbawahi dalam kisah seorang Syafruddin, ialah keikhlasan dan inisiatif beliau untuk memimpin Indonesia dalam keadaan darurat tersebut. Meskipun tidak ada titah atau perintah resmi dari Soekarno, Syafruddin dengan semangat juangnya  berusaha agar Indonesia tidak berada dalam masa kekosongan kekuasaan yang menjadi syarat Internasional untuk diakui sebagai negara. Big Respect!

Referensi :

http://m.voa-islam.com/news/profile/2009/09/15/1113/mr-syafruddin-prawiranegara-pemimpin-yang-terlupakan/;

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Syafruddin_Prawiranegara

Tinggalkan Balasan

Recent Posts

Taaruf vs Pacaran Part I

Oleh : Ustadz Usman, M.Pd.I   Pacaran itu tidak ada ditemukan di dalam Al-Qur’an, hadits, bahkan dalam Bahasa Arab. Tidak ada satu kata yang konotasinya merujuk kepada pacaran. Yang ada di dalam Al-Qur’an dan hadits itu cinta. Pacaran itu menjalin hubungan dengan lawan jenis tanpa ikatan resmi, yang di dalamnya ada berpegangan tangan, berkhalwat, dan […]

Mabit SKI 2017 di Narmada, Lombok Barat

Pada tanggal 9-10 Desember 2017 telah dilaksanakan MABIT / Malam Bina Iman & Taqwa 2017 di Narmada, Lombok Barat.

Sirkumsisi Massal di Masjid Al Haq Ampenan

Pada hari minggu, 3 desember 2017, dilaksanakan sirkumsisi massal di Masjid Al-Haq, Lingkungan Otak Desa Selatan, Ampenan.

Event SKI Asy-Syifa

no event