SKI Asy-Syifa

Lifestyle

Jangan Mencampuri Urusan Orang Lain

Rasulullah ﷺ berpesan bahwa hendaklah seorang muslim meninggalkan apa yang bukan menjadi urusannya. Karena meninggalkan sesuatu yang bukan urusannya merupakan salah satu wujud kesempurnaan Islam seseorang.

Selama ini, tentu banyak orang yang membuat Anda kesal dan masygul ketika mereka mencampuri urusan anda, sementara urusan itu sama sekali tidak penting bagi mereka. Misalnya, ada seseorang melihat jam tangan anda dan bertanya, “Berapa Kamu membeli jam tangan ini?”

Anda menjawab, “Ini hadiah”

Lalu ia bertanya lagi, “Hadiah! Dari siapa?”

Anda menjawab, “Dari seorang teman”

Ia masih bertanya lagi, “Teman? Apakah teman kuliah dulu, atau tetangga, atau teman yang mana?”

Anda menjawab, “Temanku kuliah dulu”

“Oh ya! Memangnya dalam rangka apa ia memberimu hadiah?” tanyanya menyidik

Anda menjawab dengan mulai kesal, “Emm..yah, sekadar untuk mengenang persahabatan kami ketika sama-sama kuliah saja.”

Setelah itu, ia masih terus menanyai Anda dengan pertanyaan-pertanyaan yang bukan menjadi urusannya. Ketika berhadapan dengan orang seperti itu, mungkin kita akan terdorong untuk memarahinya dan berkata, “Hai Sobat, janganlah suka mencampuri urusan orang lain!”. Keadaan seperti ini akan membuat Anda kesal, apalagi jika terjadi di tempat umum.

Ada sebuah kisah dari Dr. Muhammad Al-‘Areifi ketika ia berkumpul dengan beberapa temannya. Setelah shalat magrib, handphone salah seorang temannya bordering. Karena cukup keras, beliau bisa mendengar pembicaraan keduanya.

“Ya, halo! Siapa ini?”, jawabnya.

Istrinya berkata, “ Hai Keledai, di mana kamu? Sudah jam berapa ini?”

Setelah itu, temannya berkata, “Baik.., baik.., silahkan kamu berangkat terlebih dahulu. Semoga Allah menganugerahkan keselamatan kepadamu!”.

Dari jawabannya tersebut, sepertinya temannya ini sudah berjanji kepada istrinya untuk mengantarkannya mengunjungi orang tuanya setelah magrib dan dia lupa karena sibuk berbincang-bincang.

Beliau mendengar istri temannya marah dan dengan keras dan kesal berkata, “Semoga Allah tidak menyelamatkanmu. Kamu asyik-asyik bersama teman-temanmu, sementara aku menunggu dengan gelisah. Sungguh, Kamu benar-benar seperti sapi”.

Teman beliau segera menjawab untuk mengakhiri pembicaraan, “Semoga Allah meridhaimu. Begini saja, kamu berangkat dulu dan saya akan segera menyusul setelah Isya”. Di sini terlihat sepertinya sepasang suami istri ini tidak sepaham, temannya ini pun segera menutup teleponnya.

Setelah beliau mendengar pembicaraan temannya di telepon, beliau dan teman lainnya tersiam dan saling memandang. Beliau yang memandang kawan-kawannya satu persatu berpikir bahwa betapa malunya teman beliau jika salah satu dari mereka langsung bertanya kepada temannya tadi, seperti misalnya Siapa yang meneleponmu? Mau apa dia? Kenapa rona wajahmu berubah setelah menerima telepon?. Akan tetapi, saat itu Alhamdulillah tidak ada seorangpun yang mencampuri urusannya.

Begitulah halnya yang harus Anda lakukan ketika mengunjungi orang sakit. Jika orang yang sedang sakit telah menjawab, “Alhamdulillah, sudah membaik. Cuma sakit biasa saja, kok!” terhadap pertanyaan Anda, maka Anda tidak perlu bertanya lebih jauh tentang penyakitnya.

INGAT

Salah satu bukti kesempurnaan Islam adalah dengan tidak mencampuri urusan yang bukan urusannya dan tidak penting baginya. Dalam hal ini, kita menunggu dia mengatakan sendiri apa penyakitnya. Misalnya, tunggulah orang yang sedang sakit berkata, “Saya mengalami luka di bagian ini dan itu.”

Jika ia menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban yang bersifat umum dan terlihat enggan memberi tahu lebih detail tentang sakitnya, maka tidak perlu berpanjang lebar menanyakannya dengan pertanyaan bertubi-tubi yang bukan menjadi urusan kita. Maksudnya adalah bukan berarti tidak bertanya tentang penyakit yang menimpa orang sakit, melainkan agar kita tidak mengajukan pertanyaan yang terlalu rinci dan membuatnya masygul (bersusah hati).

Contoh lainnya. Ada seorang pelajar yang baru lulus. Seseorang bertanya kepadanya, “Wahai Ahmad, apakah kamu lulus?.

Ahmad menjawab, “Alhamdulillah, lulus.”

Kemudian orang itu bertanya lagi, “Berapa nilaimu? Ranking berapa kamu?”

Kita tidak seharusnya mencontoh tindakan seperti itu. Sebab, bila benar-benar tulus ingin bertanya kepada seseorang seperti Ahmad tadi, tanyakanlah pertanyaan-pertanyaan rinci ketika duduk berdua dengannya, jangan di depan umum. Hal itu akan membuatnya lebih bersimpati.

Kemudian, bila bertemu dengan seorang pelajar yang gagal dalam ujian dan kita tulus ingin membantunya, tidak semestinya bertanya secara mendetail di depan umum alasan mengapa ia gagal, tidak belajar, atau tidak diterima di sekolah yang diinginkannya, berapa nilainya, dan sebagainya. Bila benar-benar ingin membantu, ajaklah ke suatu tempat dan beritahu niat kita untuk membantunya. Jangan sampai memperdengarkan kelemahannya di depan orang lain.

Upaya menghindarkan diri dari tindakan mencampuri urusan orang lain itu memang akan terasa sulit pada permulaannya, tetapi akan menyenangkan pada akhirnya.

 

Sumber :

Al-‘Areifi, Muhammad, 2016. Enjoy Your Life. Jakarta: Qisthi Press <cetakan ke 16>

 

Penulis : Shofi Suryalathifani

Tinggalkan Balasan

Recent Posts

Merkuri dalam Vaksin, Bahaya?

Merkuri dalam Vaksin, Bahaya? Oleh: Agi Tri Fatonah   Merkuri, atau yang biasa disebut raksa, merupakan suatu logam berat yang secara alami berada di lingkungan dalam berbagai wujud kimianya. Bagi manusia, merkuri adalah zat yang sangat toksik atau beracun. Namun kenyataannya, merkuri digunakan dalam suatu produk kesehatan yang berperan sangat penting untuk mencegah timbulnya penyakit […]

Keajaiban Shalat di Setiap Gerakanya

Keajaiban Shalat di Setiap Gerakanya Manfaat Gerakan – gerakan Shalat bagi Kesehatan Tubuh Oleh : Muhammad Alfaridzi   وَاَقِيْمُوْ الصَّلَوْةَ وَآتُوْالزَّكَوةَ وَمَاتُقَدِّمُوْا لاَِنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدُاللهِط اِنَّ اللهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ “Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat dan apa-apa yang kamu usahakan dari kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan dapat pahalanya pada sisi Allah […]

Bahaya Penyakit Hati: Riya’, Ujub, Sum’ah

Oleh : Oleh: Ustadz Dr. Muchlisin Kita tidak bisa menjadi muslim yang baik jika tidak memahami agama kita dengan baik. Kisah oleh Ibnu Katsir dalam salah satu tafsirnya : Tasir surah Luqman, di awal surah, Luqman bukanlah nabi, tetapi orang soleh berkulit hitam berasal dari dekat Sudan. Luqman pernah disuruh menyembelih kambing oleh majikannya. Ia […]

Event SKI Asy-Syifa

no event