SKI Asy-Syifa

Figure

Fathimah binti Ubaidillah

Wanita adalah tiang negara, jika baik wanita dalam suatu negara maka baik pulalah negara tersebut, namun jika buruk wanitanya maka buruk jugalah negaranya

(Imam Hasan Al Banna)

            Banyak para orang tua yang mengidamkan anak-anaknya menjadi hafidz AlQur’an, rajin sholat, berbakti kepada orang tua, menjaga auratnya, dan masih banyak cita-cita islami lainnya. Namun, dari banyak cita-cita mulia itu, sedikit orang tua yang memberikan keteladanan untuk anaknya agar menjadi seperti yang diimpikan. Contohnya, ingin melihat anak menjadi hafidz Al-Qur’an, tapi setiap pagi mendengarkan anak musik dangdut. Ingin melihat anak menjadi santun, tapi bertengkar dengan suami di depan anak, dan masih banyak keteledoran orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Lain lagi ceritanya, ketika seorang anak hanya memiliki single parent, bisa karena yatim atau broken home, orang tua cenderung melampiaskan kemarahannya pada anak.

Dibalik fenomena diatas, ternyata ada seorang ibu inspiratif. Ia melahirkan sosok ulama yang sukses menjadi hafidz Al Qur’an pada usia 7 tahun, menghafal banyak hadits semenjak berusia 9 tahun dan menjadi guru dari usia 14 tahun. Bahkan pada suatu ketika disaat ia mengajar di bulan puasa, Ia pernah minum disaat sedang mengajar dan ketika murid-muridnya menegurnya ia menjelaskan kalau dirinya belum baligh dan belum wajib berpuasa. Hingga, mayoritas muslim Indonesia memilih pendapat ulama ini sebagai mazhab utamanya. Ulama cerdas yang dimaksud adalah Imam Syafi’i, yang memiliki ibu mulia bernama Fatimah bin Ubaidilillah.

Fatimah sangat apik meningkatkan level ketaqwaannya sejak muda. Allah memberinya jodoh seorang pemuda jujur. Idris, ayah dari Imam syafi’i adalah laki-laki pilihan dari ayahnya fathimah. Kronologinya, suatu saat Idris menemukan buah delima dipinggir sungai dalam perjalanannya, dan disebabkan oleh rasa lapar ia memakan buah tersebut. Namun setelah Ia memakan buah tersebut, ia teringat jikalau buah tersebut bukanlah haknya. Khawatir ada makanan yang tidak halal masuk kedalam perutnya, ia pun menyusuri sungai tersebut berusaha menemui pemilik kebun dan meminta izin agar di ikhlaskan buah yang termakan olehnya. Akhirnya, pemilik kebun memberikan syarat kepada Idris tersebut agar menjaga kebunnya selama sebulan, endingnya Idris dinikahkan dengan Fatimah.

Pernah suatu ketika Fatimah ke pasar dan meninggalkan Imam syafi’i kecil di rumah sendirian. Ketika, imam syafi’i menagis, tetangga yang kebetulan juga sedang menyusui merasa iba, dan iapun menyusui Imam syafi’i. Sesampainya Fatimah dirumah, setelah mengetahui bahwa anaknya disusui oleh tetangganya, ia merasa khawatir jika ada hal yang tidak halal masuk ke tubuh anaknya. Fatimah pun mengangkat tubuh Imam Syafi’i terbalik dan mengguncang-guncang perutnya sampai semua yang masuk kedalam perutnya tadi keluar lagi. Sang Ibu sadar bahwa ASI sangat berpengaruh terhadap watak, karakter dan kepribadian anaknya kelak.

Ayah Imam asy-Syafi’i wafat dalam usia muda. Ibunyalah yang mendidik Muhammad bin Idris asy-Syafi’i menjadi seorang imam besar. Bukan main, diantara amalan rutin Fatimah yaitu megkhatamkan Al-Qur’an sepekan sekali. Ibunya membawa Imam Syafii hijrah dari Gaza menuju Mekah. Di Mekah, ia menghafal Alquran Kemudian sang ibu mengirim anaknya ke pedesaan yang bahasa Arabnya masih murni. Sehingga bahasa Arab sang anak pun jadi tertata dan fasih. Setelah itu, ibunya memperhatikannya agar bisa berkuda dan memanah. Imam Syafi’i pernah memanah 100 anak panah tepat pada sasaran.

“Nak pergilah menuntut ilmu tuk jihad di jalan Allaah swt, kelak kita bertemu di akhirat saja”.perintah Ibunda Imam Syafi’i.

“Pergilah anakku. Allah bersamamu. Insya-Allah engkau akan menjadi bintang Ilmu yang paling gemerlapan dikemudian hari. Pergilah sekarang karena ibu telah ridha melepasmu. Ingatlah bahwa Allah itulah sebaik-baik tempat untuk memohon perlindungan!” Motivasi Fatimah untuk anaknya

Do’a Fatimah untuk anaknya : “Ya Allah, Rabb yang menguasai seluruh alam. Anakkku ini akan meninggalkanku untuk perjalanan jauh demi mencari ridhaMu. Aku rela melepasnya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu. Maka hamba mmohon kepadaMu ya Allah… mudahkanlah urusannya. Lindungilah ia, panjangkanlah umurnya agar aku bisa melihatnya nanti ketika ia pulang dengan dada yang penuh dengan ilmu-Mu.”

Imam Syafi’i belajar di Iraq lebih dari 2 tahun, beliau tidak berani pulang sebelum ada kabar izin dari ibunya, karena teringat kata ibunya “kelak kita bertemu di akhirat saja”. Di Iraq, beliau menjadi ulama besar. Hingga suatu hari, ada seorang ulama besar dari Iraq sering menyebut Imam Syafi’I berkata begini, begitu. Fatimah pun mengkonfirmasi, ternyata yang dimaksud ulama tadi adalah anaknya. Sontak semua jamaah menghormati sang ibu. Dari sanalah, ibunya menitip pesan kepada ulama tadi agar mengabarkan Imam Syafi’i bahwa sang anak bisa pulang.

Sontak Imam Syafi’i menyambut kabar bahagia pesan ibundanya. Di Iraq, masayarakat memberikan Imam Syafi’i puluhan unta, dinar, dan lain-lain hingga Imam Syafi’i harus santrinya. Saat sang santri mengabarkan kepada Fatimah bahwa Syafi’i membawa harta berlimpah, ibundanya kecewa dan sama sekali tidak mengizinkan Imam Syafi’i pulang. Lalu, santrinya memberitahu imam Syafi’i,  terkejutlah sang imam, kemudian dibagikanlah semua harta yang dibawa tadi kepada masyarakat Mekkah. Namun, ketika santri tersebut mengabarkan bahwa imam Syafi’i membawa ilmu dan banyak buku. Ibunya sumringah dan sang imam pun pulang.

Fatimah sadar ia miskin harta, namun kecintaananya terhadap Allah dapat meluluhkan hati sang guru untuk rela mengajar Imam Syafi’i dengan gratis, bahkan Imam Malik memberikan uang bekal untuk sang Imam. Sekalipun hidup dalam kemiskinan, kecintaan Imam Syafi’i tak sama sekali membuatnya pantang menyerah dalam mencintai Islam dan menimba ilmu. Beliau sampai harus mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta semata-mata demi kecintaannya dalam menulis Islam. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadits-hadits Nabi. Semua itu adalah didikan ibunya.

Itulah peran seorang ibu yang selalu memasrahkan keturunanya kepada Allah dengan kekuatan tauhid yang membara. Menyerahkan segala aktivitasnya dalam rangka pengabdian kepada Allah. Semoga kita senantiasa meneladani beliau, ibunda Imam Syafi’i.

 

Sumber:

  1. Kisahmuslim
  2. Islamid
  3. Muslimmoderat
  4. Bersamadakwah
  5. Cahayasiroh

Tinggalkan Balasan

Recent Posts

Penyaluran Bantuan Gempa Lombok melalui FK Unram

Duka menyelimuti pulau Lombok. Pada akhir juli dan awal agustus, pulau seribu masjid ini diguncang gempa dengan kekuatan besar yaitu 6.4 SR dan 7.0 SR. Gempa susulan pun terjadi berulangkali setelah gempa utama tersebut. Beberapa rumah warga dan infrastruktur rusak, korban berjatuhan akibat tertimpa bangunan, keadaan memprihatinkan warga yang tinggal di pengungsian, dan keadaan lain […]

Webinar Bedah Buku “Islam, Sains, dan Kesehatan” karya dr. M. Saifudin Hakim dkk di FK Unram

Pernahkah kita membaca atau mendengar suatu hal yang dikaitkan dengan ajaran Islam dan sains? Banyak yang berdecak kagum ketika hal yang berlabel “islami” dapat dihubungkan dengan sains walaupun itu hanya opini. Doktor dokter Saifudin Hakim dkk menulis sebuah buku yang sangat informatif dan edukatif baik untuk kalangan akademisi maupun masyarakat umum. Buku ini khususnya membahas […]

Air Zamzam dengan Segudang Manfaat Didalamnya

Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Air zamzam  mendatangkan khasiat dengan niat untuk apa air itu diminum”. (HR. Ibnu Majah) Ibnu Abbas radhiallahu anhu menambahkan dalam riwayatnya, “Air zamzam memenuhi tujuan untuk apa ia diminum; jika engkau meminumnya dengan niatan untuk menyembuhkan penyakitmu, Allah akan menyembuhkan penyakitmu dan jika […]

Event SKI Asy-Syifa

no event