SKI Asy-Syifa

Opinions

Cara Menyikapi Perbedaan Pendapat

Pada suatu hari, Imam Syafi’i berbincang dengan ulama tentang permasalahan fikih yang cukup rumit dan keduanya berbeda pendapat. Perdebatan semakin memanas dan mereka berdua sama-sama tidak bisa memuaskan lawan dialognya dengan penjelasan masing-masing. Tampak rona wajah sang imam berubah. Setelah itu, mereka pergi meninggalkan masjid. Imam Syafi’i menuju ke arah ulama tersebut, kemudian meraih tangannya dan berkata, “Kita boleh berbeda namun tetap menjadi saudara, bukan?”

Kisah lainnya, suatu hari, beberapa ulama hadis berkumpul di hadapan khalifah dan salah seorang membacakan sebuah hadis. Salah seorang ahli hadis merasa asing dengan hadis tersebut, dan berkata, “Hadis apa itu? Dari mana engkau mendapatkannya? Apakah engkau berdusta atas nama Rasulullah?”

Pembaca hadis tersebut menjawab, “Hadis ini shahih dan benar berasal dari Rasulullah”

Tidak. Kami tidak pernah mendengar hadis ini, dan tidak pernah menghafalnya pula”, sahut kawannya itu.

Ada seorang ahli wazir yang bijaksana di dalam majelis itu. Dia berpaling ke arah ahli hadis yang menyanggah hadis tersebut dan berkata dengan tenang, “Ya Syaikh, apakah Anda hafal seluruh hadis Nabi?”

“Tidak”, jawab ahli hadis tersebut

Wazir itu kembali bertanya, “Anda hafal setengahnya barangkali?”

“Mungkin”, jawab ahli hadis itu

Menteri itu pun berkata, “Anggaplah hadis yang dibacakan ini adalah salah satunya yang belum Anda hafal”.

Permasalahan akhirnya selesai.

Ada sebuah kisah, Fudhail ibn Iyadh dan Abdullah ibn al-Mubarak, mereka berdua adalah sahabat yang tak terpisahkan, alim, dan ahli ibadah. Suatu hari, Abdullah ibn al-Mubarak pergi untuk jihad dan menjaga perbatasan. Fudhail ibn Iyadh tinggal seorang diri di Masjidil Haram melakukan shalat dan ibadah.

Pada suatu saat ketika beribadah di Masjidil Haram, hati Fudahil meratap dan menitikkan air mata. Dia rindu kepada sahabatnya dan terkenang saat-saat bersama di majelis dzikir. Dia menulis surat kepada sahabatnya Ibnu al-Mubarak untuk memintanya pulang dan beribadah bersamanya di al-Haram, berdzikir, dan membaca Al-Qur’an.

Ibnu al-Mubarak membaca surat sahabatnya tersebut dan menulis balasan yang berbunyi:

Wahai ahli ibadah di dua tanah suci kalau engkau melihat kami,

     niscaya engkau akan tahu

sesungguhnya engkau bermain-main dalam ibadahmu.

     Kalau orang lain membasahi pipinya dengan air mata

maka leher kami dibasahi oleh darah.

     Kalau kuda orang lain lelah dalam kebatilan

maka kuda kami sejak pagi hari sudah merasakan lelah.

     Harum angin semerbak bunga itu bagimu,

dan bagi kami harum batu terinjak kuda dan debu lebih semerbak.

     Kami mendengar sabda Nabi kita,

Sabda itu benar, jujur, dan tak ada dusta.

     Bagi seseorang, deru debu kuda Allah tidak sama

dengan asap neraka yang menyala.

     Inilah Kitab Allah sudah mewartakan untuk kita,

bahwa dia yang syahid tidaklah mati, dan Allah tidak akan berdusta.

Setelah menulis bait tersebut Ibnu al-Mubarak menambahkan:

“Di antara hamba-hamba-Nya,

    ada pintu pahalanya dibuka oleh Allah dengan puasa.

Dia pun menjalani puasa yang tidak bisa dilakukan orang lain.

    Di antara hamba-hamba-Nya,

ada yang pintu pahalanya dibuka oleh Allah dengan pembacaan al-Qur’an.

    Di antara hamba-hamba-Nya,

ada yang pintu pahalanya dibuka oleh Allah dengan menuntut ilmu.

    Di antara hamba-hamba-Nya,

ada yang pintu pahalanya dibuka oleh Allah dengan jihad.

    Di antara hamba-hamba-Nya,

ada yang pintu pahalanya dibuka oleh Allah dengan shalat Tahajud.

    Apa yang sedang engkau kerjakan

tidak lebih baik dari apa yang sedang aku kerjakan.

    Dan apa yang sedang aku jalani

tidak pula lebih baik dari apa yang kamu jalani.

    Masing-masing kita mengerjakan kebaikan.”

Akhirnya perbedaan pendapat mereka diselesaikan dengan damai dengan satu ungkapan sederhana, “Masing-masing kita mengerjakan kebaikan.”

Begitu pula manhaj para sahabat dalam menyelesaikan perbedaan pandangan.

Orang-orang kafir berkumpul untuk sepakat memerangi kaum Muslimin di Madinah. Mereka membawa pasukan yang tidak pernah dilihat oleh bangsa Arab, baik jumlah maupun persenjataannya. Kemudian, kaum Muslimin menggali parit di perbatasan agar musuh tidak bisa masuk ke Madinah. Dan mereka mendirikan tenda-tenda di balik parit itu.

Saat itu, di Madinah ada Kabilah Bani Quraizhah, yaitu orang-orang Yahudi yang selalu mencari kesempatan untuk menikam kaum Muslimin. Mereka mendatangi pasukan kafir untuk membantu dan melakukan pengrusakan dan penjarahan di sekitar Madinah. Kaum Muslimin dibuat sibuk di perbatasan Madinah di sekitar parit.

Hari-hari itu begitu sulit hingga Allah mengirimkan angin dan balatentara-Nya untuk memporak-porandakan kaum kafir. Orang-orang kafir akhirnya pulang membawa kekalahan.

Keesokan harinya, Rasulullah pulang ke Madinah meninggalkan parit. Kaum Muslimin meletakkan senjata mereka dan kembali ke rumah. Rasulullah tiba di rumah, meletakkan senjata, dan mandi. Ketika waktu zuhur tiba, Malaikat Jibril datang menemui Rasulullah, memanggilnya dari luar rumah, dan Rasulullah sontak berdiri dan keluar.

Jibril bertanya, “Apakah engkau sudah meletakkan senjata, wahai Rasulullah?”.

Rasulullah menjawab, “Ya, sudah”.

“Sesungguhnya para malaikat belum meletakkan senjata mereka. Kami kembali setelah mengejar kaum musyrikin. Kami mengikuti mereka sampai di wilayah Hamra ‘al-Asad,” Jelas Jibril a.s.

Jadi, ketika orang-orang Quraisy meninggalkan Madinah menuju Mekah, malikat-malikat membuntuti untuk mengusir dan menjauhkan mereka dari Madinah.

Jibril kembali berkata, “Allah telah memerintahkanmu untuk pergi ke dusun Bani Quraizhah, dan aku sendiri yang akan menggoncang mereka”.

Rasulullah segera memerintahkan untuk menyampaikan kepada para sahabat, pengumuman berbunyi,”Barangsiapa mendengar dan patuh, hendaknya dia melaksanakan shalat Asar sesampainya di Bani Quraizhah.”

Para sahabat di Madinah segera mengambil senjata. Bergeraklah mereka menuju Bani Quraizhah. Ketika di tengah perjalanan, mereka memasuki waktu shalat Asar.

Sebagian sahabat berkata, “Kita akan shalat Asar setelah kita sampai di perkampungan Bani Quraizhah.”

Sebagian yang lain mengatakan, “Tidak. Kita harus shalat sekarang. Sebab, maksud Rasulullah tidak seperti itu. Beliau hanya menginginkan kita agar bergegas.”

Akhirnya, ada yang melaksanakan shalat Asar lalu melanjutkan perjalanan, dan ada pula yang menunda shalat dan melaksanakannya ketika sampai di perkampungan Bani Quraizhah.

Rasulullah mendengar hal ini, namun beliau tidak menyalahkan keduanya.

Selanjutnya, Rasulullah mengepung orang-orang Yahudi Bani Quraizhah sampai akhirnya Allah menganugerahkan kemenangan kepada kaum Muslimin.

Walaupun berselisih pendapat, namun para sahabat tetap bersaudara. Perselisihan mereka tidak menyebabkan pertengkaran, perpecahan serta permusuhan. Percayalah, jika kita berinteraksi dengan orang lain dengan sikap tenang, santai, dan wawasan luas seperti ini, niscaya kita akan disukai orang lain. Dan yang terpenting, kita dicintai oleh Allah karena pertengkaran merupakan hal yang buruk. Karena, yang menjadi tujuan adalah bukan bagaimana kita sepakat, namun bagaimana kita tidak berselisih.

 

Sumber :

Al-‘Areifi, Muhammad, 2016. Enjoy Your Life. Jakarta: Qisthi Press <cetakan ke 16>

 

Penulis : Shofi Suryalathifani

 

Tinggalkan Balasan

Recent Posts

Air Zamzam dengan Segudang Manfaat Didalamnya

Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Air zamzam  mendatangkan khasiat dengan niat untuk apa air itu diminum”. (HR. Ibnu Majah) Ibnu Abbas radhiallahu anhu menambahkan dalam riwayatnya, “Air zamzam memenuhi tujuan untuk apa ia diminum; jika engkau meminumnya dengan niatan untuk menyembuhkan penyakitmu, Allah akan menyembuhkan penyakitmu dan jika […]

Dibalik Kebaikan Donor Darah

  donor/do·nor/ n  1 penderma; pemberi sumbangan; 2 penderma darah (yang menyumbangkan darahnya untuk menolong orang lain yang memerlukan): — darah. Donor darah merupakan istilah yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Darah yang telah didonorkan ini kemudian akan ditransfusikan kepada orang yang membutuhkan. Transfusi darah bertujuan untuk mengembalikan darah yang hilang misalnya saat operasi atau pada cedera parah. […]

Api yang Berbeda

Ya dia adalah Bilal, seseorang yang sontak membuat geger penyelenggaraan Ospek waktu itu. bagaimana tidak, dia satu-satunya maba yang berani menentang senior, karena sikap senior yang tidak bisa diterima. Di saat kami dimarah-marah oleh senior, kami hanya bisa diam dan menundukkan kepala, tetapi tidak dengan dia, dia berani mengatakan salah jika salah dan menunjukkan benar […]

Event SKI Asy-Syifa

no event