SKI Asy-Syifa

Opinions

Bolehkah seorang wanita bekerja?

Bolehkah seorang wanita bekerja?

 

Pertanyaan tersebut seolah tidak pernah selesai untuk diperdebatkan, selalu hangat bahkan bisa memanaskan suasana. Para kaum wanita pun seakan terbagi menjadi dua kubu, yakni kubu “working mom” dan kubu “stay at home mom”. Sayangnya, belum banyak di antara mereka (baca: khususnya Muslimah) yang mendudukkan problem ini secara proporsional sesuai sudut pandang Islam. Ya, mereka meributkannya karena masing-masing punya kepentingan yang perlu diprioritaskan. Lalu bagaimana sebenarnya pengaturan syariat Islam yang agung terkait hal ini?

Secara syar’I, hukum asal seorang wanita bekerja adalah mubah/boleh; yang artinya ketika ia melakukannya tidak ada konsekwensi pahala dan dosa sama sekali. Namun, diperbolehkannya ini tidak lantas membuat seorang wanita menjadi kebablasan dalam bersikap, atau membuat hukum-hukum baru dan pembenaran seputar pilihannya. Tetap ada syariat lainnya yang harus diperhatikan ketika akhirnya seorang wanita memilih untuk bekerja.

Islam sangat memuliakan wanita, penjagaan luar biasa ini dibuktikan dengan banyaknya syariat seputar wanita baik yang disadari atau pun tidak, sebenarnya bertujuan untuk menjaga iffah serta izzah wanita itu sendiri. Misalnya :

  • Perintah wanita harus menutup aurat

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nur: 31)

Selain itu, firman Allah lainnya yakni :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya:

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.

(QS. Al-Ahzab:59)

  • Tidak bersolek atau tabarruj

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى وَأَقِمْنَ الصَّلاةَ وآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Artinya:

dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

(QS Al-Ahzab : 33)

  • Tidak berjalan lenggak lenggok
  • Tidak berkhalwatatau ikhtilat
  • Tidak safar lebih dari 24 jam kecuali ditemani mahramnya, dan masih banyak syariat lainnya.

Termasuk hukum mubah bagi wanita untuk bekerja, hikmah di baliknya adalah untuk penjagaan wanita agar tetap bisa menjalankan tugas dan perannya yang utama, yakni sebagai ummun wa rabbatul bayt (ibu dan pengatur rumah tangga). Dengannya, bukan hanya para wanita yang terjaga, namun juga generasi Islam yang gemilang pun akan senantiasa ada dan lestari sepanjang masa.

Berbagai syariat di ataslah yang perlu diperhatikan oleh seorang wanita yang memilih untuk bekerja. Terlebih ketika ia sudah menyandang gelar istri serta ibu, maka kewajiban utamanya adalah hadhonah anak, mendidik anak, mengurusi urusan rumah tangga dan berbagai kewajiban lain atas predikatnya tersebut. Sama sekali tidak ada kewajiban bekerja untuk wanita, karena kewajiban nafkah dalam Islam pun ada di pundak suami.

Namun sayangnya, kondisi kehidupan saat ini yang menjerat masyarakat secara ekonomi, pendidikan, sosial, budaya serta pemikiran telah mempengaruhi paradigma para wanita. Wanita yang memilih fokus pada keluarga dan dakwah (apalagi sudah bergelar sarjana) menyia-nyiakan ilmu dan biaya yang dikeluarkan untuk sekolah adalah salah satu pandangan yang berkembang di masyarakat saat ini. Atau karena alasan gengsi dan mengejar eksistensi diri, akhirnya para wanita terjun ke dunia kerja, bersaing dengan para pria atas nama emansipasi wanita serta kesetaraan gender. Atau bahkan karena memang tuntutan ekonomi, para wanita menjadi terpaksa melepaskan tugas mulianya sebagai ummun wa rabbatul bayt, membantu suami mencari tambahan uang untuk makan dan sekolah anak. Sehingga pada akhirnya, bukan hanya para wanita yang jadi korban, tetapi juga anak-anak yang ditinggalkan tersebut.

Berbeda halnya ketika wanita memilih bekerja karena memang ilmu yang ia miliki dibutuhkan masyarakat (bukan dorongan materil/duniawi); misalnya profesi sebagai guru, dokter, bidan, tenaga ahli bidang ilmu tertentu dan beberapa profesi lainnya. Ia berkontribusi di masyarakat secara profesional dan proporsional. Tentunya dengan tetap memperhatikan syariat terkait penjagaan wanita (baca : seperti beberapa yang sudah disebutkan di atas), sehingga tidak ada syariat yang dilanggarnya ketika ia mengerjakan sesuatu yang mubah (bekerja). Tanpa melupakan kewajiban ibadah serta dakwah seperti di firman Allah dalam QS Ali Imran : 110:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Maka pekerjaan yang dipilihnya pun tidak boleh jauh-jauh dari dakwah serta syia’r Islam; dengan kata lain dakwah dijadikan sebagai poros hidup. Sehingga ketika ia sudah berkeluarga, maka kewajibannya di rumah harus tetap jadi yang utama; dalam artian aktivitas pekerjaannya tidak sampai mengenyampingkan aktivitasnya di rumah. Dengan begitu, maka in syaa Allah akan ada keberkahan di balik pilihannya untuk bekerja. Karena sejatinya semua hukum-hukum tersebut ada bukan untuk mengekang kebebasan wanita namun,  justru menjamin kemuliaan wanita agar dapat beraktivitas tanpa ada ancaman. Hal yang perlu kita yakini bahwa Allah SWT akan melindungi wanita yg telah mengikatkan dirinya dengan aturan Allah SWT. Wallahua’lam.

 

Penulis: dr. Arenta Mantasari

 

Tinggalkan Balasan

Recent Posts

Penyaluran Bantuan Gempa Lombok melalui FK Unram

Duka menyelimuti pulau Lombok. Pada akhir juli dan awal agustus, pulau seribu masjid ini diguncang gempa dengan kekuatan besar yaitu 6.4 SR dan 7.0 SR. Gempa susulan pun terjadi berulangkali setelah gempa utama tersebut. Beberapa rumah warga dan infrastruktur rusak, korban berjatuhan akibat tertimpa bangunan, keadaan memprihatinkan warga yang tinggal di pengungsian, dan keadaan lain […]

Webinar Bedah Buku “Islam, Sains, dan Kesehatan” karya dr. M. Saifudin Hakim dkk di FK Unram

Pernahkah kita membaca atau mendengar suatu hal yang dikaitkan dengan ajaran Islam dan sains? Banyak yang berdecak kagum ketika hal yang berlabel “islami” dapat dihubungkan dengan sains walaupun itu hanya opini. Doktor dokter Saifudin Hakim dkk menulis sebuah buku yang sangat informatif dan edukatif baik untuk kalangan akademisi maupun masyarakat umum. Buku ini khususnya membahas […]

Air Zamzam dengan Segudang Manfaat Didalamnya

Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Air zamzam  mendatangkan khasiat dengan niat untuk apa air itu diminum”. (HR. Ibnu Majah) Ibnu Abbas radhiallahu anhu menambahkan dalam riwayatnya, “Air zamzam memenuhi tujuan untuk apa ia diminum; jika engkau meminumnya dengan niatan untuk menyembuhkan penyakitmu, Allah akan menyembuhkan penyakitmu dan jika […]

Event SKI Asy-Syifa

no event