SKI Asy-Syifa

Opinions

Bedah Mayat, Bolehkah?

Bedah Mayat, Bolehkah?

Cadaver (mayat) sangat diperlukan untuk kegiatan pembelajaran di fakultas kedokteran, khususnya dalam mempelajari ilmu anatomi dan bedah. Karena mendapatkannya termasuk sulit, kadaver sering didapatkan dengan cara membeli. Mungkin terpintas dalam benak pikiran kita, apakah dalam Islam diperbolehkan membeli kadaver dan membedah mayat untuk tujuan pendidikan?

Menurut, syaikh Abdul Aziz bin Baz, jika mayat tersebut adalah mayat orang kafir maka boleh diperjualbelikan. (Fatwa At-Thib wal Mardha hal 421, syamilah)

Terdapat fatwa dari syaikh Muhammad Asy-Syinqiti rahimahullah mengenai dibolehkan membedah mayat orang kafir dengan pertimbangan :

  1. Hukum asal yang tidak membolehkan melakukan tindakan yang bermacam-macam terhadap mayat orang muslim, termasuk pembedahan. Kecuali tindakan tersebut masih dalam batas-batas syariat yang diperbolehkan.
  2. Kebutuhan pembedahan masih bisa terpenuhi dengan mayat orang kafir. Hal itu dikarenakan mulianya derajat seorang muslim di sisi Allah baik ketika hidup maupun telah meninggal.
  3. Terdapat dalil-dalil yang melarang mencincang dan menghancurkan tulang yang dikhususkan kepada muslim.
  4. Para ulama yang membolehkan dilakukan pembedahan secara mutlak mengqiyaskannya dengan boleh membongkar kuburan untuk mengambil kain kafan yang dirampas, maka qiyas ini tertolak karena merupakan ‘qiyas ma’al faariq’ (qiyas yang tidak sesuai)

Adapun hadist mengenai larangan mencincang dan menghancurkan tulang mayat, yaitu sebagai berikut :

  1. Diriwayatkan oleh Sulaiman bin Burairah dari ayahnya, ia berkata :

كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا أَمَّرَ أَمِيرًا عَلَى جَيْشٍ أَوْ سَرِيَّةٍ أَوْصَاهُ فِي خَاصَّتِهِ بِتَقْوَى اللهِ وَمَنْ مَعْهُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ خَيْرًا، ثُمَّ قَالَ: اغْزُوا بِاسْمِ اللهِ، في سَبِيلِ اللهِ، قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ بِاللهِ، اغْزُوا وَلَا تَغُلُّوا وَلَا تَغْدِرُوا وَلَا تَمْثُلُوا وَلَا تَقْتُلُوا وَلِيدًا وَإِذَا لَقِيتَ عَدُوَّكَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ فَادْعُهُمْ إِلَى ثَلَاثِ خِصَالٍ -أَوْ خِلَالٍ- فَأَيَّتُهُنَّ مَا أََجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الْإِسْلَامِ، فَإِنْ أَجَابُوكَ فَاقْبَلْ مِنْهُمْ وَكُفَّ عَنْهُمْ…

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila menetapkans eorang komandan sebuah pasukan perang yang besar atau kecil, beliau berpesan kepadanya secara khusus untuk bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan berbuat baik kepada kaum muslimin yang bersamanya, lalu beliau berkata, “Berperanglah dengan menyebut nama Allah di jalan Allah. Perangilah orang yang kafir terhadap Allah. Berperanglah, jangan kalian melakukan ghulul (mencuri rampasan perang), jangan berkhianat, jangan mencincang mayat, dan jangan pula membunuh anak-anak. Bila kamu berjumpa dengan musuhmu dari kalangan musyrikin, maka ajaklah kepada tiga perkara. Mana yang mereka terima, maka terimalah dari mereka dan jangan perangi mereka. Ajaklah mereka kepada Islam, jika mereka menerima maka terimalah dan  jangan perangi mereka…” (HR. Muslim)

  1. Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku keluar bersama Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa Sallam mengantar jenazah, beliau duduk di pinggir kuburan dan kami pun juga demikian. Lalu seorang penggali kubur mengeluarkan tulang (betis atau anggota) dan mematahkannya (menghancurkannya). Maka nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Jangan kamu patahkan tulang itu. Kamu patahkan meski sudahmeninggal sama saja kamu patahkan sewaktu masih hidup. Benamkanlah di samping ” (HR. Malik, Ibnu Majah, Abu Daud dengan isnad yang shahih)

Untuk menangani permasalahan terkait pembedahan mayat, Majlis Al-Majma’ Al-Fiqhiy Al-Islamiy lirabithil ‘alam Al-Islamiy mengeluarkan ketetapan mengenai hal tersebut berdasarkan asas darurat yang mendorong dilakukannya pembedahan yang nantinya mendatangkan maslahat lebih besar daripada mafasadat berupa penghinaan kehormatan manusia/mayat.

  1. Pembedahan mayat boleh dilakukan dengan tujuan :
  2. Memastikan klaim kejahatan/tindak kriminal untuk mengetahui sebab kematian atau jenis tindakan kriminal yang dilakukan.
  3. Meneliti penyakit-penyakit yang memerlukan tindakan pembedahan untuk mengetahui pengobatan atau tindakan preventif yang tepat.
  4. Belajar dan mengajarkan ilmu kedokteran.
  5. Pembedahan untuk tujuan pendidikan hendaknya memperhatikan syarat-syarat berikut :
  6. Jika jasad telah diketahui identitasnya, disyaratkan orang tersebut telah mengizinkan (sebelum meninggal) atau ahli waris mengizinkannya setelah meninggal dan tidak selayaknya membedah mayat yang darahnya “ma’shum” (terjaga, misalnya muslim, kafir dzimmi, dan lain-lain), kecuali dalam keadaan darurat.
  7. Wajib membatasi pembedahan sesuai kadar darurat ketika membedah mayat.
  8. Jasad wanita hanya boleh dibedah oleh wanita, kecuali tidak ada pembedah wanita.
  9. Wajib pada semua keadaan menguburkan semua bagian-bagian jasad yang telah dibedah.

Oleh karena itu, mayat boleh diperjualbelikan, kecuali mayat orang muslim. Untuk kepentingan pembelajaran, diupayakan menggunakan mayat orang kafir dan sebaiknya dibatasi sesuai kebutuhan. Walaupun mayat tersebut mayat orang kafir, jika tidak diperlukan untuk hal-hal penting maka tidak boleh dibedah maupun dicincang. Hal itu karena apa yang boleh karena udzur maka tidak boleh ketika udzur tersebut hilang. Wallahu’alam.

Sumber : muslimafiyah.com

Tinggalkan Balasan

Recent Posts

Dua Kader SKI Asy-Syifa Silaturrahim ke Universitas Indonesia

Zakiyuddin Abd. Azam (kiri) dan Azhar Rafiq (kanan) di UI (5/11) مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ “Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. [Muttafaqun ‘alaihi]. Mataram-Para mahasiswa kedokteran kerap dianggap sangat sibuk mengurus perkuliahan, tidak sempat untuk menjadi […]

Berbuat Baik pada Orang Tua

Belasan tahun tlah kita lalui hidup di muka bumi ini.. Dengan segala upaya dan usaha diri.. Benarkah ini hasil kerja keras pribadi? Ataukah ada yang membantu lagi? Tentu, Orang tua kita lah yang selalu mendampingi.. Meski hati kita tak slalu mengingat akan kedua insan ini.. Sepenuh jiwa raga mereka dipikirkan untuk sang buah hati.. Berharap […]

Neuroimmunology dalam Islam

Oleh: TGH Hasanain Junaini, Lc, M.H (Pengasuh Ponpes Nurul Haramain Narmada, Lombok Barat)   “Menjawab fenomena hidup ini, bisa dari yang paling besar dan juga dari yang paling kecil” Neurologi merupakan jembatan satu-satunya yang bisa digunakan manusia untuk menghubungkan ilmu-ilmu material dan nonmaterial. Pembangunan sosial bisa seimbang antara pembangunan fisik dan mental. Terdapat istilah “otak […]

Event SKI Asy-Syifa

no event