SKI Asy-Syifa

Lifestyle

Akhlak Rasulullah ﷺ terhadap Orang-orang Miskin

Di Zaman Now, masih banyak orang yang budi pekertinya bersifat komersial, yaitu mengutamakan harta dan kekayaan. Artinya, orang kaya saja yang mereka anggap menarik dan perlu ditanggapi dengan tertawa ketika mendengarnya. Tetapi, jika ada kesalahan besar, mereka menganggapnya tidak bearti.

Lalu, kepada orang-orang miskin, mereka memandangnya tidak menarik dan kadang mengolok-ngolok ketika mendengarnya. Mereka bahkan menganggap kesalahan-kesalahan kecilnya sebagai kesalahan yang besar dan pantas dicela dan dimaki.

Bagaimana sikap Rasulullah ﷺ?

Rasulullah ﷺ, terhadap orang-orang kaya maupun miskin, perlakuan beliau sama dan tidak pernah membeda-bedakan simpati beliau terhadap keduanya.

Anas radiallahu anhu berkata:

Ada seorang pria dusun bernama Zahir ibn Haram. Setiap ia datang ke Madinah untuk suatu keperluan, ia selalu membawa keju atau minyak samin dari kampungnya untuk dihadiahkan kepada Nabi ﷺ. Dan sebaliknya, setiapkali hendak pulang, Rasulullah tak pernah lupa membekalinya dengan kurma atau sejenisnya.

Rasulullah sangat menyukainya. Beliau pernah berkata soal sahabatnya ini, “Zahir adalah orang dusun bagi kita, sedang kita adalah orang kota baginya.”

Zahir, adalah orang yang memang buruk rupanya. Suatu hari, Zahir menuju ke Madinah, dan seperti biasa ia berkunjung ke rumah Rasulullah ﷺ. Namun, ia tidak berjumpa dengan beliau. Saat itu, ia membawa barang dagangan yang cukup banyak. Ia pun langsung ke pasar untuk menjual dagangannya.

Rasulullah ﷺ yang mendengar kedatangan Zahir, langsung menuju ke pasar untuk mencarinya. Sesampainya di sana, beliau mendapatinya tengah sibuk berdagang dan keringat menetes deras dari tubuhnya. Seperti lazimnya orang dusun, baju yang dipakainya saat itu juga khas orang kampung dengan segala rupa, bentuk, dan warnanya.

Namun, begitulah kemuliaan akhlak Rasulullah ﷺ  yang tak memedulikan keadaaan Zahir tersebut dan langsung memeluknya dari belakang dengan erat. Zahir tidak bisa melihatnya, sehingga tidak mengetahui siapa yang memeluknya. Zahir terkejut dan takut. Dengan serta-merta ia berteriak, “Lepaskan aku! Siapa ini..?”

Nabi ﷺ hanya diam saja dan tetap memeluknya, sementara Zahir terus berusaha untuk melepaskan diri. Sesekali ia berusaha melihat ke belakang, hingga pada suatu tengokan yang kesekian kalinya ia melihat bahwa ia dipeluk oleh Nabi ﷺ. Ia pun lega dan rasa takutnya sirna, bahkan ia semakin merekatkan punggungnya ke dada Nabi ﷺ.

Zahir terdiam dan termenung ketika memperhatikan dirinya sendiri, lalu ia menyimpulkan bahwa dirinya hanyalah orang miskin yang susah, tidak berharta, dan tidak memiliki rupa yang tampan.

Ia pun berkata, “Demi Allah, aku tidak mungkin laku engkau jual, ya Rasulullah?”

Rasulullah ﷺ menjawab, “Tidak, karena di mata Allah, engkau benar-benar sangat mahal harganya.”

Demikianlah, tidaklah mengherankan jika hati orang-orang miskin banyak yang sangat bersimpati terhadap Rasulullah ﷺ . Karena beliau telah berhasil menguasainya dengan akhlak yang sangat elok.

INGATLAH

Kita sering melihat, banyak orang miskin yang mencela orang kaya bukan karena kekikirannya dalam menyedekahkan sebagian harta dan makannya, tetapi karena kekikirannya dalam menebarkan keramahan dan pergaulan yang baik.

Betapa banyak pula orang fakir, yang hanya karena senyumanmu, keramahanmu, penghormatanmu, penghargaanmu, dan perlakuan baikmu terhadap mereka, justru tidak segan menengadahkan tangan mereka di kegelapan malam untuk memohon kepada Allah agar menurunkan rahmat dan berkah bagimu.

Betapa banyak orang-orang yang terlantar dan diusir dari pintu-pintu rumah orang-orang kaya itu justru sangat makbul doa mereka.

Marilah kita menjadi seseorang yang selalu ramah dan murah senyum kepada mereka. Karena, senyuman terhadap seorang fakir itulah yang justru dapat mengangkat derajat kita di sisi Allah.

 

Sumber :

Al-‘Areifi, Muhammad, 2016. Enjoy Your Life. Jakarta: Qisthi Press <cetakan ke 16>

 

Penulis : Shofi Suryalathifani

Tinggalkan Balasan

Recent Posts

Kegiatan Kesmas Al-Wafi 2018

Transfusi darah adalah kegiatan dalam membantu penyembuhan manusia ketika kadar darah dalam tubuh dibawah yang seharusnya. Menyumbangkan darah kepada orang lain yang amat membutuhkannya menurut kesepakatan para ahli fikih termasuk dalam kerangka tujuan syariat Islam, yaitu menghindarkan salah satu bentuk kemudaratan yang akan menimpa diri seseorang. Meskipun pada hakikatnya darah yang dikeluarkan dari tubuh manusia […]

7 Cara Menenangkan Hati

Selama manusia hidup, kesenangan dan kesedihan selalu bergantian mengisi hari-hari. Permasalahan yang terus-menerus datang, baik itu ringan maupun berat, akan memberikan dampak pada hati seseorang. Ketika dihadapkan dengan masalah, manusia sering menghindarinya. Namun, dengan menghindari masalah yang dimiliki, hati akan merasa tidak tenang. Dalam Islam, kita diajarkan cara untuk membuat hati menjadi tenang dan selalu […]

Tutur Kata yang Baik

Saudaraku.. Mungkin dari kita sering atau suka menggunakan kata-kata yang tidak baik. Kata dusta. Kata hinaan. Serta ujaran kebencian. Kata-kata tersebut diucapkan baik saat bercanda, atau sedang serius, marah, dan sebagainya. Ada pula yang mengatakannya demi memuaskan diri saja. Atau ingin menjatuhkan suatu tokoh yang terkenal. Wahai saudaraku, apakah baik sikap muslim seperti itu ? […]

Event SKI Asy-Syifa

no event